Endang Yuni Purwanti – Blog

Manusia Mulia (1) : ‘Sang Panitia Lain’

August 13th, 2012 · No Comments

Siang itu di pelataran Kampus Universitas Padjajaran Dipati Ukur, saya antri menunggu giliran menyerahkan formulir dan dokumen yang harus diserahkan kepada panitia yang sudah menunggu di balik meja pendaftaran. Ya, siang itu saya bermaksud mendaftarkan diri untuk ikut UMPTN Tahun 2002/2003, dan untuk wilayah Bandung pendaftaran dilakukan di Kampus Unpad tersebut.

Menit demi menit telah terlalui, saya masih antri menunggu giliran saya menyerahkan formulir.  Sebagian peserta yang lain telah meninggalkan lokasi pendaftaran dan memutuskan untuk menyerahkan formulir setelah jam istirahat. Setelah menunggu sekian lama, hampir pukul 12, tibalah giliran saya menyerahkan formulir pendaftaran saya. Ternyata tinggal saya seorang yang masih antri. Senangnya saya bisa segera melakukan pendaftaran sebelum jam istirahat tiba. Saya pun segera beranjak ke meja panitia.

Namun sayang, saat formulir dan berkas untuk pendaftaran saya sodorkan, seorang panitia dengan tegas mengatakan saat itu sudah masuk jam istirahat dan saya harus menunggu istirahat selesai, satu jam kemudian.  Padahal saat itu tinggal saya seorang. Sepertinya tidak memakan waktu lama untuk melayani seorang peserta. Tapi apa daya, saya hanya seorang peserta pendaftaran dan tak mungkin ngeyel minta dilayani saat itu. Yah, saya harus menunggu satu jam,  saya juga tidak bisa beranjak untuk istirahat karena jika saya beranjak dari lokasi pendaftaran, maka saya harus memulai antrian baru setelah jam istirahat.

Dengan berat hati dan kecewa, formulir pendaftaran dan berkas dokumen yang ditolak itu pun sudah hampir saya masukan kembali ke dalam tas dan saya akan beranjak duduk kembali di bangku antrian, ketika seorang panitia lain bertanya, “Ada apa dengan mbaknya? Kenapa ga jadi daftar?”  Lalu terjadi dialog pendek antara panitia yang menolak melayani saat itu dengan ‘panitia lain’ itu.  Saya yang sudah pasrah tidak menyangka bahwa dengan ringan hati  sang ‘panitia lain’ itu menawarkan diri untuk melayani pendaftaran saya. Dan benar saja, tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 5 menit saja, dan proses pelayanan pendaftaran saya selesai.

***

Kejadian diatas mungkin sangat ‘remeh’ tapi entah bagaimana kejadian tersebut sangat terkenang bagi saya.  Kejadian itu hanya fragmen sederhana bagaimana orang lain- yang nama dan wajahnya saja saya sudah lupa- dengan sukarela mau mengulurkan tangannya membantu saya -yang juga tidak dikenalnya-.

Betapa indah ya hidup ini ketika kita saling membantu memudahkan urusan orang lain seperti fragmen diatas. Bukan pada hal-hal besar yang perlu pengorbanan besar, tapi pada hal-hal sederhana yang sangat sering kesempatan  membantu orang lain itu menghampiri kita.

Alhamdulillah, saya lulus UMPTN tahun tersebut dan menjadi salah satu mahasiswa FH UGM, salah satu ikhtiarnya adalah karena kebaikan bantuan ‘panitia lain’ tersebut.  Tak ada materi yang saya berikan, hanya selaksa doa untuknya, moga Allah memudahkan urusan ‘panitia lain’ itu, memberinya keberkahan hidup, meluaskan rezekinya dan memudahkan keluarganya untuk meraih pendidikan tinggi yang lebih baik dari saya.  Aamiin.

# Sesungguhnya  Allah  akan memudahkan urusan orang yang memudahkan urusan orang lain.

Tags: Artikel Umum