Endang Yuni Purwanti – Blog

Antara Taj Mahal & Bilik Humairo’

April 3rd, 2013 · No Comments

taj mahal 2

Taj Mahal (Monumen Arjumand Begum), tentu sebagian besar dari kita tahu Taj Mahal, bahkan mungkin pernah melihat gambarnya (minimal di TV or internet). Sedangkan bilik Humairo, saya yakin tak banyak dari kita yang pernah melihat gambaran asli seperti apa rumah yang ditinggali Rasulullah Muhammad SAW dan Aisyah r.a. Berikut ini tulisan tentang cinta sepasang kekasih dibalik Taj Mahal dan Bilik Humairo. Silakan disimak ^.^

***

Arjumand Begum dan Humairo’. Ini dua nama yang berbeda dan hidup di abad yang juga berbeda. Mereka terpaut sekitar 1000 tahun. Tetapi keduanya memiliki kesamaan.

Keduanya sama-sama wanita. Keduanya mendampingi orang besar dalam sejarah. Arjumand Begum istri dari Shah Jehan (raja di Dinasti Mogul, India) dan Humairo’ adalah Aisyah radhiallahu anha. Ya, istri Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam(pasti, Rasulullah lebih besar dari Shah Jehan). Bahkan keduanya sama-sama istri ketiga (menurut sebagian ulama’, Aisyah adalah istri ketiga setelah Khadijah dan Saudah radhiallahu anhuma).

Nah, judul di atas sudah bisa dipahami kan…Taj Mahal dan Bilik Humairo’. Ada apa dengan keduanya. Dan pelajaran apa yang bisa kita ambil untuk keluarga kita.

Begini…

Dunia sangat mengenal bangunan yang dianggap sebagai salah satu situs warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Gedung megah menjulang yang menjadi salah satu tujuan wisata di India. Taj Mahal, namanya.

Taj Mahal diyakini sebagai monumen cinta. Lambang cinta sejati. Dari Shah Jehan untuk Mumtaz Mahal alias Arjumand Begum.

Bukti cinta Shah Jehan diabadikan dengan bangunan megah yang masih kokoh berdiri hingga hari ini. Disebutkan bahwa monumen cinta itu dibangun selama 22 tahun (1631 – 1653 M). 20.000 pekerja dilibatkan untuk membangunnya.

Begitulah cinta. Bahkan ketika Shah Jehan meninggal, ia dimakamkan di samping istrinya. Kisah cinta yang syahdu dan mahal.

Sementara bilik Aisyah, As Samhudi menyebutkan ukuran bilik Aisyah radhiallahu anha:

Panjangnya dari timur ke barat arah Kiblat adalah 10 lebih dua pertiga Dziro’ (4,8 M), arah Syam sepanjang 10 Dziro’ lebih seperempat dan seperenam Dziro’ (4,69 M). Lebarnya dari utara ke selatan arah timur dan barat adalah 7 Dziro’ lebih setengah dan seperdepalan Dziro’ (3,43 M).

Nabi membangunnya dari bata dan batang Pohon Kurma. Ada di samping masjid.

Itulah keseluruhan rumah wanita mulia ini. Bersama sang suami, manusia paling mulia di muka bumi; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Melihat ukurannya, lebih layak di sebut bilik daripada rumah.

Dan hari ini masih bisa kita lihat ukurannya walaupun sudah dipugar. UNESCO jelas tidak berminat untuk mengabadikannya. Karena hanya bilik. Berbeda dengan Taj Mahal.

Tapi bilik ini menyimpan berbagai nilai agung sebuah rumah tangga. Andai kita bisa memahami ‘suara’ dindingnya, kita akan mendengarkan kisah cinta terindah sepasang anak manusia. Ia menjadi saksi kebersamaan 10 tahun itu. Dan benar hanya kematian yang memisahkan SEMENTARA cinta keduanya. Sebelum cinta itu kembali disatukan dalam damai dan bahagia yang sesungguhnya dan abadi di surga nanti.

Dinding menjadi saksi akan senyum manis penyambut kedatangan. Ia menjadi saksi akan bincang malam penuh kasih. Ia menjadi saksi akan cengkerama hingga di kamar mandi. Ia menjadi saksi akan kecemburuan penghangat suasana. Ia menjadi saksi akan kecupan ringan sebelum ke masjid.

Dan ternyata kisah bilik Aisyah lebih kita kenali dan lebih abadi.

Bilik Aisyah bukan monumen Arjumand…

Bilik Aisyah mengajari kita akan cinta yang sederhana. Tak perlu monumen untuk menumbuhkannya.Tak perlu monumen untuk menyegarkannya. Tak perlu mahal untuk mengabadikannya.

Hanya perlu sebuah bilik penuh cinta.

the prophet house

* Sumber : www.parentingnabawiyah.com dengan judul asli “Antara Monumen Arjumand Begum dan Bilik Humairo’” dengan sedikit (benget) perubahan redaksi ^.^

***

btw entah kenapa, beberapa kali posting di blog temanya tentang cinta, padahal sekarang lagi sukanya naik turun gunung. Aneh, apa hubungannya, bagaimana ini bisa terjadi seperti ini. Ah ra mudeng… wes lah ^.^

 

Tags: Artikel Umum

Nutrisi Cinta.. ^.^

March 28th, 2013 · No Comments

Nutrisi Cinta

Sungguh, belajar cinta dari Nabi adalah sebuah kemuliaan. Cinta yang agung. Tapi cinta yang sederhana. Sederhana dalam cara mengabadikannya. Tak mesti berbiaya mahal.

Makan bersama suami istri adalah salah satu resep sederhana cinta nabawiyah. Untuk menyirami cinta. Makan bersama antara suami istri jangan hanya sebuah formalitas kaku yang kering tanpa rasa. Tak hanya rutinitas yang membosankan dan membebani.

Dengarlah kenangan Ummul Mu’minin Aisyah radhiallahu anha tentang cinta yang tersirami dengan hal yang terlihat sepele dalam aktifitas makan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: «كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ، فَيَشْرَبُ

Dari Aisyah berkata: Aku minum dalam keadaan haidh. Kemudian aku berikan ke Nabishallallahu alaihi wasallam, beliau meletakkan mulutnya di bekas mulutku. Dan beliau minum. (HR. Muslim)

Minum segelas berdua. Tak hanya indah dalam senandung. Tapi istimewa jika dilakukan dengan hati. Mungkin hanya bibir suami yang menyentuh gelas bekas sentuhan bibir istri. Tapi pemandangan itu direkam dengan sangat baik oleh istri. Jika suami memberikan hatinya saat melakukan itu. Nabi pasti sengaja melakukan itu di hadapan istrinya. Dan sangat dahsyat, Aisyah mengenangnya sebagai sentuhan jiwanya.

Kisah Aisyah inipun memberi pelajaran bahwa tak harus suami yang meminum terlebih dahulu. Aisyah meminumnya terlebih dahulu, kemudian disodorkan oleh Aisyah kepada Nabi. Ini bukan masalah sopan santun yang kaku. Tetapi ini majlis cinta.

Kalau itu pelajaran tentang minum. Kini Rasulullah perlu untuk mengajari sepasang suami istri dalam hal makan.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ تَعْلَمُ الْمَرْأَةُ حَقَّ الزَّوْجِ مَا قَعَدَتْ مَا حَضَرَ غَدَاءَهُ، وَعَشَاءَهُ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ»

Dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallambersabda,

“Andai seorang wanita tahu hak suami, ia tidak akan duduk saat hadir makanan siangnya(suami) dan malamnya hingga ia selesai darinya.” (HR. Thabrani, Al Bazzar dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu)

Hadits ini mengajarkan dua hal:

a. Istri melayani makan suami

Bisa jadi, di rumah itu ada pembantu. Dan bisa jadi sekali waktu pembantu yang memasak makanan di rumah. Tetapi saat telah tersedia di meja makan, seharusnya istri tampil sebagai pelayan tunggal bagi suaminya yang telah siap menyantap makanan.

Bisa jadi juga, di tengah sedang menikmati makanan, suami memerlukan sesuatu. Ketika suami minta kepada istrinya untuk mengambilkannya, maka jadikan ini sebagai nilai pelayanan yang akan menyuburkan cinta suami dan kebanggaannya. Hati-hati dengan diamnya suami yang menyaksikan istri yang selalu berteriak kepada pembantunya untuk mengambilkan permintaan suami. Karena bahkan dalam hadits ini, Nabi membahasakan posisi istri yang bersiap siaga berdiri hingga suami selesai makan. Walaupun istri tak mesti harus berdiri, karena istri-istri Nabi pun duduk bersama Nabi untuk makan bersama. Tetapi itu kalimat penguatan yang menunjukkan bahwa istri harus siap siaga, kapan pun suami memerlukan sesuatu di tengah aktifitas makan, maka istri bergerak dengan penuh cinta. Agar cinta itu berpadu cinta.

b. Istri menemani makan suami

Walaupun mungkin istri tidak lapar, bahkan tidak ingin makan. Tapi dampingilah suami saat makannya. Lakukan sunnah Nabi ini dan rasakan kasih sayang suami yang terus tumbuh hingga menyentuh langit doa.

Hadits yang ketiga ini juga bicara tentang makan. Walaupun sebenarnya Nabi tidak bicara secara khusus tentang bab suami istri, tetapi menjelaskan tentang semua amal kebaikan akan mendapatkan balasan kebaikan juga.

وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى اللُّقْمَةَ تَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan sesuatu kecuali kamu akan diberi pahala atasnya, hingga sesuap yang kau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari, dari jalan Saad bin Abi Waqqas)

Ya, Rasulullah dengan jelas mengajarkan suap-suapan antara suami dan istri. Sayangnya, suap-suapan di budaya kita hanya dilakukan saat di pelaminan. Itupun hanya sebuah ritual budaya belaka. Tanpa hati.

Kalau urusan suap-suapan yang terlihat sepele, harus dibahas oleh Rasulullah maka pasti tidak sepele. Jelas tidak sederhana. Dan harus dibahas. Kalau itu tak hanya menyuapkan nutrisi untuk kesehatan fisik. Tetapi suapan cinta. Nutrisi cinta. Untuk kesehatan cinta kita berdua.

Dari tiga hadits tersebut kita bisa ambil 3 pelajaran mahal.

a. Minum segelas berdua. Dan tentu makan sepiring berdua

b. Istri melayani dan mendampingi suami makan

c. Suami menyuapi istri.

Dan silakan jika sekali waktu istri menyuapi suami (lihat tulisan: Teruslah berkarya, aku yang menyuapimu)

***

Mungkin hanya segelas air. Tapi menyirami cinta agar segar kembali.

Mungkin hanya seteguk air. Tetapi menghilangkan dahaga rindu.

Mungkin hanya sesuap kue di mulut istri. Tetapi itu adalah suapan cinta.

Nutrisi cinta.

***

–  So sweet yak … ^.^ –

 

Sumber tulisan : www.parentingnabawiyah.com

Sumber gambar : www.toonsmag.com

 

Tags: Artikel Umum