Endang Yuni Purwanti – Blog

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81 Tahun 2014

Januari 9th, 2015 · No Comments

Permendikbud Nomor 81 Tahun 2014 Tentang Ijazah, Sertifikat Kompetensi dan Sertifikat Profesi Pendidikan Tinggi

→ No CommentsTags: Peraturan Menteri

Kebaikan ‘Sederhana’ Prof. Alvi

Januari 6th, 2015 · No Comments

Di USU

 

Siang itu seperti biasanya jalanan (tol)  ibukota padat merayap, kami berenam bergerak menuju Universitas Sumatera Utara, salah satu PTN terbaik di pulau Sumatera. Perjalanan dinas kami kali ini adalah kunjungan kerja terkait pengelolaan PTNbh yang saat ini memasuki era barunya setelah berubah dari PT BHMN, USU dan IPB termasuk dari 7 PTN awal yang menjadi PT BHMN kemudian menjadi PTNbh. Tapi tulisan ini bukan menceritakan tentang hasil kunker itu, tapi tentang pertemuan singkat saya dengan seorang profesor yang bagi saya sangat berkesan.

Namanya Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H., M.S., seorang profesor Hukum Pidana/Lingkungan di USU. Beliau menjabat sebagai Wakil Direktur II Sekolah Pascasarjana USU, juga sebagai Sekretaris Majelis Wali Amanat USU (2004-2009, 2009-2014). Kunjungan kerja kami sebenarnya tidak diagendakan untuk bertemu dengan beliau, tapi karena Prof. tersebut telah beberapa kali bertemu dalam pertemuan PTNbh maupun Derden Verzet USU dalam perkara susu formula, maka kami secara informal mengabari bahwa kami sedang dalam perjalanan ke USU.

Sesuai rencana semula, Rabu malam kami sampai di Medan, dan Kamis pagi kami akan bertemu salah satu Kepala Biro di USU. Kami pun telah merencanakan menyewa mobil untuk memudahkan kami dari hotel menuju USU.  Kamis pagi, saat sarapan sebelum ke USU, Prof. Alvi menelpon, selain mengajak bertemu, Prof. Alvi menawarkan untuk menjemput kami dari hotel ke USU. Tentu sungkan kami menerima tawaran tersebut, kami pun menolak secara halus, beralasan bahwa kami berenam tentu akan merepotkan, dan alasan-alasan penolakan lainnya. Tapi ternyata Prof. Alvi tetap akan menjemput kami ke hotel.

Jam telah menunjukan pukul 8.30, sebagian dari kami telah berkumpul di lobby bersiap menuju USU. Saya yang menyusul kemudian ke lobby bertemu Prof. Alvi yang ternyata telah sampai di hotel. Sungkan saya menyapa, da saya mah siapa atuh.. wajar jika beliau lupa, eh beliau menyapa “kalo dengan mbaknya kita pernah bertemu ya..”
Wah beliau ingat saya ternyata.. horee.. 🙂 Padahal hanya beberapa kali bertemu, itu pun saya hanya mendampingi atasan. Yah, seperti kesan pertama ketika bertemu beliau beberapa tahun lalu, seorang Profesor yang sangat ramah.

Baiklah, tim kami sudah lengkap, kami berjalan menuju parkiran dimana mobil Prof. Alvi terparkir. Karena kami saja sudah berenam, saya bayangkan mungkin 2 mobil, atau supir Prof. Alvi menunggu di mobil. Dan ternyata, Prof. Alvi langsung yang menyetir mobil membawa kami ke USU. Wah.. masya Allah, diluar perkiraan saya, kirain supirnya aja yang jemput ke hotel bawa mobil beliau, atau beliau bawa supir, eh ini beliau langsung yang menjemput dan menyetir buat kami. Tersanjung, terharu, secara ya saya kan jarang sekali berinteraksi dengan Profesor, apalagi berada di belakang kemudi alias disetirin, seriusan double tersanjung deh kami.. eh saya.. 🙂

Pun beliau itu beralasan kenapa jemput kami karena kebetulan letak rumah beliau  dan hotel searah menuju USU. Ah Prof, sepertinya jarang ya yang mau sengaja menjemput demikian, walaupun searah. Dan ternyata kebaikan beliau tidak berhenti di situ saja. Setelah menanyakan agenda kami selama di Medan, dalam perjalanan ke USU, Prof. Alvi pun menelpon anak (atau kerabatnya) untuk mengantarkan kami selama di Medan. Luar biasa baik ya Prof ini 🙂

Selain kebaikan pagi itu, ketika kami mampir ke kantor Prof. Alvi untuk pamitan, dalam waktu yang singkat yang ada beliau sempat bercerita bagaimana kiprah beliau sebagai Wakil Direktur II di Sekolah Pascasarjana USU. Dari cerita singkat itu pun kami belajar bahwa dalam melakukan perubahan itu pasti menimbulkan ekses, tapi teruslah bergerak mewujudkan perubahan menjadikan organisasi yang jauh lebih baik, buktikan bahwa di tangan kita, organisasi itu menjadi jauh lebih baik.

Jadi ya, kalo ada peribahasa padi semakin berisi semakin merunduk, itulah gambaran Prof. Alvi bagi saya.  Gelar akademiknya sebagai seorang Profesor tidak membuatnya segan untuk melakukan kebaikan ‘sederhana’ seperti menjemput dan menyetiri kami. May Allah always bless you, Sir.

Eh trus ya, pertemuan singkat itu juga membuat saya berkaca, sudahkah saya sebaik beliau? Jika saya sangat ‘tersanjung’ dengan kebaikan beliau, tentu orang lain pun akan merasakan hal yang sama jika saya melakukan hal serupa.

Jadi ya itulah sejumput cerita saya saat ke USU, tentang kebaikan-kebaikan ‘sederhana’ yang sangat berkesan buat saya 🙂 Semoga saya bisa belajar dari kebaikan beliau tersebut. cmiiw.

_
Keterangan foto :
Saya terlalu sungkan untuk meminta foto bersama beliau, jadi fotonya di depan ikon USU aja 🙂 [sstt… ini mah ngeles.com.. padahal mah mo anarkis.. eh narsis..  hhehehhee.. :D]

→ No CommentsTags: Artikel Umum · Uncategorized

Permendikbud 49 Tahun 2014 : Standar Nasional Pendidikan Tinggi

November 28th, 2014 · No Comments

Pendidikan tinggi sebagaimana disebutkan dalam UU Dikti merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan iptek. Termasuk dalam hal ini, perannya dalam mempersiapkan bangsa ini dalam menghadapi era globalisasi, lebih spesifik MEA pada akhir 2015.

Dengan demikian pentingnya peran pendidikan tinggi tersebut, diperlukan standar yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, dalam hal kegiatan pendidikan, kegiatan penelitian maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat, baik yang diselenggarakan oleh PTN Badan Hukum, PTN, maupun oleh PTS.

Terkait hal tersebut, pada tanggal 9 Juni 2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Dengan telah ditetapkannya peraturan menteri tersebut, maka setiap penyelenggaraan pendidikan tinggi baik pada PTNBH, PTN mauapun PTS harus memenuhi standar tersebut paling lambat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak ditetapkan.

→ No CommentsTags: Peraturan Menteri

Web Internal : Sarana Berbagi Informasi

Oktober 6th, 2014 · No Comments

Pagi masih terasa sejuk, jarum jam di dinding menunjukkan jam delapan kurang beberapa menit. Satu persatu rekan kerja datang dan menempati meja kerja masing-masing. Seperti biasa, sambil menunggu apel doa pagi dimulai, setelah PC dinyalakan, laman yang pertama kali saya buka adalah web internal perusahaan.

Web internal ini adalah media komunikasi internal perusahaan yang berisi beragam hal yang harus diketahui seluruh elemen perusahaan. Mulai dari visi, misi, rencana jangka pendek, menengah dan panjang, sampai kebijakan perusahaan terbaru, termasuk peraturan yang harus diketahui oleh semua elemen. Dengan kantor cabang mulai dari Aceh hingga Papua, web internal jadi sarana cukup efektif dalam penyebaran informasi penting perusahaan. Sehingga tidak ada kata tidak tahu tentang kebijakan perusahaan karena semua sudah disediakan di web internal tersebut.

Selain hal-hal ‘serius’, tersedia juga fitur – fitur ringan, seperti sharing foto-foto kegiatan dari kantor cabang, berita-berita terbaru tentang pegawai, dari yang menikah, lahiran, mutasi dan lain sebagainya. Juga terdapat forum berbagi saran/pendapat/dll dengan dimoderatori CS.

Salah satu laman favorit saya adalah artikel pembuka dari ‘Big Boss’ yang biasanya diganti minimal sekali sebulan. Tak seperti biasanya saya lewati, artikel pembuka ini tak bosan saya baca berulang kali, karena setiap kali membacanya seperti tertular energi positif tentang sebuah visi besar  yang dibagikan melalui tiap huruf yang ia tuliskan. (agak lebay deh gw hehehehee)

Sagala Aya
Didedikasikan sebagai sarana terupdate, tercepat dan terpercaya dalam memberikan segala informasi tentang perusahaan, web internal dibuat sedemikian rupa dinamis dan asik dikunjungi. (Dufan kali asik dikunjungi hehehee.. ) Update laporan kemajuan kegiatan periodik tiap cabang menjadi sarana unjuk prestasi sekaligus ‘teguran’ untuk cabang terkait. Yah, siap-siap malu aja jika laporan cabangnya masuk terendah, karena update tersebut dapat dibaca seluruh elemen.

Karena menjadi satu tempat yang diandalkan menjadi sumber informasi terbaru, terpercaya dan tercepat, semua elemen memantau web internal ini setiap saat. Setiap unit terkait akan mengupdate konten yang menjadi tanggung jawabnya secara cepat. Karena itu terdapat link ke berbagai unit menjadi satu kesatuan yang memudahkan didapatkannya informasi. Dengan berbagai fitur yang disediakan, saya menyebutnya web sagala aya ^.^

Keuntungan lain dari web internal adalah menghemat kertas dan dapat diakses kapan pun dimanapun selama ada sinyal (wah Ruang Rapat HPH tidak termasuk berarti, secara blank spot area alias kagak dapet sinyal ^.^)

***

Lain padang lain ilalang. Jika dulu saya sering akses web internal, sekarang saya sering akses email internal.. heheheee..

btw 2009-2014, tak terasa lima tahun sudah berlalu sejak saya terakhir kali mengakses web internal itu. Apa kabar ya ia sekarang? Masihkah ia asik dikunjungi setiap pagi? Masihkah ia menarik seperti saat itu?  (Hadoowhh.. ini ngomongin web-nya, apa ngomongin admin webnya ya??  hehehhehee.. ^.^)

*
Tidak ada daun yang jatuh tanpa ijinNya..
Begitu pun lupaku saat itu..
Yakin bukan kebetulan, karena sejatinya tidak pernah terjadi kebetulan..
Yang ada adalah tautan-tautan ketentuanNya yang kadang kita terlupa..
Pun di sisi lain, harus belajar untuk lebih cermat dan teliti lagi..

**
Artikel ama puisina teu nyambung euy…

kumaha ieu teh..??

ah.. biarin lah ya.. da saha abdi mah atuh.. ^.^

→ No CommentsTags: Uncategorized

Mendadak [Merasa] Miskin

Juni 30th, 2014 · No Comments

jam unik

 

Sore itu, untuk persiapan bingkisan silaturahim menjelang ramadhan, janjian bertemu seorang teman di Botani Square untuk beli sirup dkknya

Karena harus menunggu cukup lama, jalanlah saya melewati berbagai toko, mulai dari jam, pakaian, sepatu, tas, sampai stand yang jual apartemen juga terlewati.

Disaat itu, tiba-tiba merasa miskin.. Iya miskin.. Padahal sebelumnya biasa aja, kaya nggak, miskin juga nggak..

Miskin, menurut KBBI artinya tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah).

Nah itu dia, di hadapan deretan toko-toko yang berlayout cantik dengan beragam harga tiba-tiba merasa miskin, berpenghasilan sangat rendah, gaji sebulan bisa habis dalam sejam jika sebatas menuruti keinginan saja..

Dan sejam di Botani Square itu saya jadi merasa ‘miskin’..

Eit.. tapi itu dia, merasa.. perasaan..

Jika di depan toko cantik-cantik itu tiba-tiba merasa miskin, tapi di lain hari kita mungkin merasa sebaliknya, merasa sangat ‘kaya’, sangat berkecukupan, beruntung, dll

Biasanya merasa ‘kaya’ merasa ‘berkecukupan’ itu bukan di mall, bukan di tempat mewah, tapi saat kita di jalanan, di tempat-tempat kumuh, di kolong jembatan, dsb.

Ah betapa perasaan itu bersifat relatif. So, ke mall sesuai kebutuhan itu boleh, tapi jangan lupa melatih sensitivitas sosial kita dengan membuka mata telinga dan hati pada sekitar kita..

Belanja shopping itu boleh banget, tapi juga ingat pada kalo sebagian harta kita ada hak fakir miskin..

Ramadhan itu sejatinya melatih kita lebih peduli sosial, merasakan lapar dan haus, juga berbagi dengan mengeluarkan zakat. Ya, kalo pun kita lapar haus, itu karena wajib puasa, tapi diluar sana banyak yang harus haus lapar karena memang tidak mempunyai sesuatu untuk dicerna..

#Ramadhan1435H H+2

*tulisan copas bebas dari fb sendiri &  gambar dari blibli.com
* btw judul awalnya adalah Miskin Sejam, jadi cocok dengan gambar. Eh diganti judul jadi Mendadak Merasa Miskin, jadi ga nyambung ama jam hehehee ^.^

→ No CommentsTags: Uncategorized

Divisi dalam Statuta IPB

Juni 20th, 2014 · No Comments

13

 

Statuta IPB sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2013 adalah peraturan dasar pengelolaan IPB yang digunakan sebagai landasan penyusunan peraturan dan prosedur operasional di IPB, termasuk mengenai Sistem Pengelolaan Fakultas. Pada Pasal 65 disebutkan bahwa organisasi Fakultas terdiri atas pimpinan Fakultas, Senat Fakultas, Departemen, dan divisi.

Dari keempat elemen dalam Organisasi Fakultas, Divisi merupakan hal baru yang berbeda dari ketentuan yang ada dalam ART IPB (Ketetapan MWA IPB Nomor 17/MWA-IPB/2003 tentang ART IPB sebagaimana telah diubah dengan Ketetapan MWA IPB Nomor 105/MWA-IPB/2011).  Dalam ART IPB ketentuan mengenai Fakultas diatur dalam Bagian Pertama Pasal 49 hingga Pasal 57. Pada pasal 49 ayat 1 disebutkan bahwa Organisasi Fakultas terdiri atas Pimpinan Fakultas, Senat Fakultas, Departemen, dan Bagian. Antara Statuta IPB dan ART IPB terdapat perbedaan tentang unsur organisasi dibawah Departemen, jika di ART IPB yang sekarang masih berlaku adalah Bagian, sedangkan dalam Statuta disebutkan Divisi. Terkait hal tersebut, maka untuk menetapkan Bagian menjadi Divisi diperlukan penetapan baru dengan menghapuskan Bagian dan membentuk Divisi.

Divisi menurut Pasal 65 ayat (1) adalah salah satu organ pada Fakultas yang secara struktur berada dibawah Departemen, dengan ketentuan tiap Departemen memiliki minimal 2 (dua) Divisi dengan fungsi sebagai pelaksana pengembangan keilmuan, pelayanan mata kuliah, dan pengelolaan sumber daya manusia sesuai dengan mandat dan ruang lingkup keilmuan tertentu. Divisi dipimpin oleh seorang kepala divisi yang diangkat oleh Rektor yang bertanggung jawab kepada Ketua Departemen. Sedangkan Ketentuan mengenai persyaratan, tata cara pengangkatan, dan pemberhentian serta tugas dan wewenang kepala divisi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Rektor.

Dalam Statuta Pasal  65 juga diatur bahwa ketentuan mengenai tata cara pendirian, penggabungan, pemisahan, perubahan nama, dan pembubaran Fakultas, Departemen, dan divisi diatur dengan Peraturan SA. Sesuai ketentuan tersebut, maka pembentukan Divisi dapat dilakukan jika Peraturan SA tersebut sudah ditetapkan.

Begitupun dengan penetapan penugasan pejabat untuk Kepala Divisi, maka yang terlebih dahulu harus ditetapkan Peraturan Rektor mengenai persyaratan, tata cara pengangkatan, dan pemberhentian serta tugas dan wewenang kepala divisi. Sampai tulisan ini dibuat, sepengetahuan penulis, belum ditetapkan Peraturan SA, Peraturan Rektor dan Keputusan Rektor tentang Divisi tersebut.

Dengan demikian, yang berlaku hingga saat  ini adalah ketentuan mengenai Bagian yang dipimpin oleh Kepala Bagian. Sehingga jika ada usulan penetapan penugasan pejabat sebagai Kepala Divisi, belum dapat diproses lebih lanjut menjadi penetapan Rektor. Sedangkan usulan penetapan Rektor mengenai Kepala Bagian dapat ditetapkan, karena sejauh ini penetapan mengenai Bagian masih berlaku, belum dicabut dan/atau diganti menjadi Divisi.  Maka untuk usulan penetapan pejabat dibawah Ketua Departemen dengan fungsi Bagian, sebaiknya diusulkan sebagai Kepala Bagian, bukan sebagai Kepala Divisi. CMIIW.

Sekilas demikian tentang Divisi dalam Statuta IPB dan mengapa usulan penetapan penugasan pejabat untuk Kepala Divisi belum dapat diproses menjadi penetapan Rektor.

 

 

 

→ No CommentsTags: Artikel Hukum

Berkendara : Cermin Sikap Kita

Mei 26th, 2014 · No Comments

SDC-1

Seperti biasa kelas ramai. Satu per satu mahasiswa saling menyuarakan diri. Ada yang memberikan pendapat, berbagi pengalaman, ataupun menanggapi tema tentang Etika yang sedang didiskusikan kelas saat itu. Ya, salah satu mata kuliah yang wajib kami ikuti di Kelas Kajian Ketahanan Nasional dengan kekhususan Kajian Strategis Pengembangan Kepemimpinan adalah Komunikasi Antar Budaya, dimana salah satu bahasannya adalah etika. Pada mata kuliah tersebut biasanya dosen kami akan bercerita tentang perbedaaan-perbedaan budaya yang lazim terjadi pada berbagai negara yang berbeda, kemudian kami berdiskusi bagaimana mensikapinya agar tidak menimbulkan konflik melainkan menjadikannya sebuah harmoni.

Salah satu hal yang saya ingat hingga kini dari Mata Kuliah tersebut adalah ketika dosen kami bercerita tentang kebiasaan di beberapa negara di luar negeri yang mendahulukan penyebrang jalan saat berkendara, terutama ketika berada di penyebrangan jalan.  [Yaiyalah.. tapi ya kadang, walaupun di area zebra cross kita sebagai pengendara teteup ga mau ngalah ama penyebrang jalan, saya maksudnya hehheeh ^.^] Beliau bercerita betapa penyebrang jalan di beberapa negara itu sangat dihargai. Mengalah pada penyebrang jalan adalah hal biasa, bahkan hal yang lazim di lakukan setiap pengendara disana.

Sebagai pengguna moda transportasi motor, penjelasan dosen tersebut cukup membuat saya gimanaa gitu hehehehee ^.^, mengingat diri sering kali tidak mau mengalah pada penyebrang jalan, walaupun tak jarang mereka menyebrang sembarangan ya, seperti tidak pada area zebra cross ataupun tidak menggunakan fasilitas jembatan penyebrangan. Tapi tak sering juga, pengendara baik motor maupun mobil yang tak mau mengalah, baik kepada sesama pengendara maupun kepada penyebrang jalan. Lihat saja bagaimana sikap pengendara ketika lampu merah berubah menjadi hijau di pertigaaan atau perempatan jalan. Hampir semua ingin melaju menjadi yang terdepan, tercepat, sebentar saja terlambat siap-siap saja di klakson kendaraan di belakang kita. Tett…tett..tett!!!!!

Wah, jika lihat semangatnya melaju, seolah-olah orang-orang tersebut luar biasa sibuk dan sangat tidak mau kehilangan waktu. Semoga saja demikian adanya. Tapi ya kok ga cuma pagi hari, pun ketika sore hari, saat orang-orang berkendara kembali ke kediaman, tak mengurangi kecepatan berkendara, padahal hari cerah, sudah tidak ada rapat kerja, bukankah setidaknya sesaat kita menikmati tiap meter yang kita lalui tanpa harus terburu dan tergesa?? [Nyindir diri sendiri ini sih hehehehe… ^.^]

***

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah satu sudut jalan di depan SDC

Hari masih pagi ketika aku dan tiga orang teman mengunjungi Singapore Discovery Center. Ya, awal Februari yang lalu, bersama beberapa teman mengunjungi salah satu negara tetangga. Dengan tiket dan akomodasi ala backpacker kami menghabiskan 3 hari dengan mengunjungi berbagai tempat disana. Salah satu tempat yang ingin kami kunjungi adalah SDC. Sengaja kami berangkat sepagi mungkin karena lokasi tempat tersebut berada di salah satu ujung wilayah Singapura dan masih ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi hari itu. Dari Stasiun MRT Bugis ke Joo Koon kemudian dilanjutkan berjalan kaki beberapa ratus meter, karena lokasinya tepat di belakang stasiun MRT tersebut. Nah, perjalanan ke SDC itulah yang membuat saya terpesona.

Lokasi SDC berada disebrang persimpangan jalan yang besar, hingga untuk mencapai ke sebrang harus melewati beberapa penyebarangan. Saat kami akan melintasi salah satu penyebrangan yang kebetulan berada di tikungan, kami berpapasan dengan truk yang berukuran besar. Kami sudah bersiap menghentikan langkah ketika melihat truk itu akan melintas. Ya, lebih baik menunggu beberapa menit dibanding harus mengambil resiko terlindas truk itu. Yah itu yang terbiasa kami, mungkin kita, lakukan disini.

Tapi apa yang terjadi kemudian di persimpangan jalan besar itu berbeda. Alih-alih menambah kecepatan, sang supir justru menghentikan kendaraannya dan dengan lambaian tangan dan senyumannya mempersilahkan kami terlebih dahulu menyebrang. Waaaww.. Kami berempat terkesima. “Hmm.. beneran nih.. ??” tanya saya dalam hati, campuran kagum dan iri.  “Kapan ya kami akan terbiasa bersikap seperti itu?  Terbiasa mendahulukan penyebrang jalan? Terbiasa saling menghargai sesama pengguna jalan?”

Mengingat diri masih sering menikmati semilir angin dalam kecepatan berkendara yang kadang terlupa ada hak orang lain disana, juga kadang tak sabar dan memarahi sesama pengendara, maafkan saya ya. ^.^

As ussually, seperti Aa Gym sampaikan, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil dan mulai dari sekarang. Yuk mari kita lebih tertib berkendara..^.^

 

SD3

→ No CommentsTags: Uncategorized