Endang Yuni Purwanti – Blog

Berkendara : Cermin Sikap Kita

May 26th, 2014 · No Comments

SDC-1

Seperti biasa kelas ramai. Satu per satu mahasiswa saling menyuarakan diri. Ada yang memberikan pendapat, berbagi pengalaman, ataupun menanggapi tema tentang Etika yang sedang didiskusikan kelas saat itu. Ya, salah satu mata kuliah yang wajib kami ikuti di Kelas Kajian Ketahanan Nasional dengan kekhususan Kajian Strategis Pengembangan Kepemimpinan adalah Komunikasi Antar Budaya, dimana salah satu bahasannya adalah etika. Pada mata kuliah tersebut biasanya dosen kami akan bercerita tentang perbedaaan-perbedaan budaya yang lazim terjadi pada berbagai negara yang berbeda, kemudian kami berdiskusi bagaimana mensikapinya agar tidak menimbulkan konflik melainkan menjadikannya sebuah harmoni.

Salah satu hal yang saya ingat hingga kini dari Mata Kuliah tersebut adalah ketika dosen kami bercerita tentang kebiasaan di beberapa negara di luar negeri yang mendahulukan penyebrang jalan saat berkendara, terutama ketika berada di penyebrangan jalan.  [Yaiyalah.. tapi ya kadang, walaupun di area zebra cross kita sebagai pengendara teteup ga mau ngalah ama penyebrang jalan, saya maksudnya hehheeh ^.^] Beliau bercerita betapa penyebrang jalan di beberapa negara itu sangat dihargai. Mengalah pada penyebrang jalan adalah hal biasa, bahkan hal yang lazim di lakukan setiap pengendara disana.

Sebagai pengguna moda transportasi motor, penjelasan dosen tersebut cukup membuat saya gimanaa gitu hehehehee ^.^, mengingat diri sering kali tidak mau mengalah pada penyebrang jalan, walaupun tak jarang mereka menyebrang sembarangan ya, seperti tidak pada area zebra cross ataupun tidak menggunakan fasilitas jembatan penyebrangan. Tapi tak sering juga, pengendara baik motor maupun mobil yang tak mau mengalah, baik kepada sesama pengendara maupun kepada penyebrang jalan. Lihat saja bagaimana sikap pengendara ketika lampu merah berubah menjadi hijau di pertigaaan atau perempatan jalan. Hampir semua ingin melaju menjadi yang terdepan, tercepat, sebentar saja terlambat siap-siap saja di klakson kendaraan di belakang kita. Tett…tett..tett!!!!!

Wah, jika lihat semangatnya melaju, seolah-olah orang-orang tersebut luar biasa sibuk dan sangat tidak mau kehilangan waktu. Semoga saja demikian adanya. Tapi ya kok ga cuma pagi hari, pun ketika sore hari, saat orang-orang berkendara kembali ke kediaman, tak mengurangi kecepatan berkendara, padahal hari cerah, sudah tidak ada rapat kerja, bukankah setidaknya sesaat kita menikmati tiap meter yang kita lalui tanpa harus terburu dan tergesa?? [Nyindir diri sendiri ini sih hehehehe… ^.^]

***

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah satu sudut jalan di depan SDC

Hari masih pagi ketika aku dan tiga orang teman mengunjungi Singapore Discovery Center. Ya, awal Februari yang lalu, bersama beberapa teman mengunjungi salah satu negara tetangga. Dengan tiket dan akomodasi ala backpacker kami menghabiskan 3 hari dengan mengunjungi berbagai tempat disana. Salah satu tempat yang ingin kami kunjungi adalah SDC. Sengaja kami berangkat sepagi mungkin karena lokasi tempat tersebut berada di salah satu ujung wilayah Singapura dan masih ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi hari itu. Dari Stasiun MRT Bugis ke Joo Koon kemudian dilanjutkan berjalan kaki beberapa ratus meter, karena lokasinya tepat di belakang stasiun MRT tersebut. Nah, perjalanan ke SDC itulah yang membuat saya terpesona.

Lokasi SDC berada disebrang persimpangan jalan yang besar, hingga untuk mencapai ke sebrang harus melewati beberapa penyebarangan. Saat kami akan melintasi salah satu penyebrangan yang kebetulan berada di tikungan, kami berpapasan dengan truk yang berukuran besar. Kami sudah bersiap menghentikan langkah ketika melihat truk itu akan melintas. Ya, lebih baik menunggu beberapa menit dibanding harus mengambil resiko terlindas truk itu. Yah itu yang terbiasa kami, mungkin kita, lakukan disini.

Tapi apa yang terjadi kemudian di persimpangan jalan besar itu berbeda. Alih-alih menambah kecepatan, sang supir justru menghentikan kendaraannya dan dengan lambaian tangan dan senyumannya mempersilahkan kami terlebih dahulu menyebrang. Waaaww.. Kami berempat terkesima. “Hmm.. beneran nih.. ??” tanya saya dalam hati, campuran kagum dan iri.  “Kapan ya kami akan terbiasa bersikap seperti itu?  Terbiasa mendahulukan penyebrang jalan? Terbiasa saling menghargai sesama pengguna jalan?”

Mengingat diri masih sering menikmati semilir angin dalam kecepatan berkendara yang kadang terlupa ada hak orang lain disana, juga kadang tak sabar dan memarahi sesama pengendara, maafkan saya ya. ^.^

As ussually, seperti Aa Gym sampaikan, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil dan mulai dari sekarang. Yuk mari kita lebih tertib berkendara..^.^

 

SD3

Tags: Uncategorized