Endang Yuni Purwanti – Blog

Senyum Berkeadilan

March 23rd, 2016 · No Comments

Logo-AYO-NGGUYU

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Attirmidzi).

Salah satu hadist terkenal yang pertama kali saya dengar pas jaman pengajian ba’da magrib dulu. Masih segar dalam ingatan saya ketika Kak Kholis, Kak Imam, Kak Ibnu dengan sabarnya membimbing kami mengaji di sela kesibukannya sebagai mahasiswa IPB, termasuk mengajarkan kami hadis ini.

Nah, salah satu yang sangat saya sukai dari hadist yang disebutkan pas pengajian itu adalah hadis ini, bahwa senyum itu sedekah. Pertama kali dengar hadist itu saya seneeeengg banget. Wah senyum saja dinlai sedekah. Ah betapa gampangnya sedekah.. Asiiikk.. Sedekah tapi ga pake biaya, tidak mengurangi saldo rekening, modal pasta gigi dan mouthwash aja hehehehhe. Apalagi saya termasuk sanguinis, wah perkara senyum sampe ketawa ketiwi itu hal yang relatif mudah dilakukan, dimana saja kapan saja. Kucing dan pohon randu di depan IPB BS saja saya sapa… sanguinis apa gila yak hhehehe…

Tapi ya ternyata, seiring berjalannya waktu, alias menua (hehehhehe), ternyata perkara senyum ini bukan urusan yang gampang. Harus berkeadilan. Halah.. yo.. senyum pake adil segala. Iya, senyum itu harus adil,  dengan mindset yang benar, dan niat yang tulus..

*

Senyum – Adil

Adil yang saya maksud adalah betapa urusan menarik bibir 2 cm ke kanan dan ke kiri itu jadi mudaaaahhh bahkan mungkin refleks ketika kita berhadapan dengan orang yang kita anggap lebih ‘tinggi’ kedudukannya dengan kita. Entah itu tinggi dari segi jabatan, pangkat golongan, senioritas, harta, level bisnis, level karir, type rumah, jenis mobil, dsb.. Ah senyum itu langsung terukir sempurna bahkan kita bisa menahan ukiran senyum itu berlama-lama ketika berhadapan dengan mereka yang lebih ‘tinggi’.

Pada kasus lain, kita juga relatif lebih mudah senyum pada orang yang ganteng atau cantik, perlente, pake jas rapih, pake seragam tertentu. Ciizzz.. senyum itu gampang banget, ga pake bersusah payah. Pun kita ga kenal dia dan baru saja ketemu. Betapa ga adilnya, secara saya merasa tidak cantik hehehhehe…
Urusan senyum ini yang jadi perjuangan adalah ketika harus mengukir senyum yang sama manisnya, sama hangatnya kepada orang-orang yang (kita anggap) lebih ‘rendah’ dari kita, entah itu jabatan, pekerjaan, kedudukan, senioritas, harta, level karir, latar belakang keluarga, harta, type rumah, jenis mobil, kecantikan, kegantengan, dsb.

Saya mungkin akan dengan mudah senyum lebar pas papasan sama Nicholas Saputra, pun saya dan dia ga saling kenal. (Siapa juga gw dikenal ama Nicko.. halah so akrab panggil nicko.. daripada nicky hehehehe) Secara ganteng maksimalnya itu bikin senyum itu jadi reflek aja gitu hehehhe.. just kidding… Belum pernah sih ketemu, kalo beneran ketemu bisa jadi gitu heheheh… J

Begitu juga ketika dalam satu acara diperkenalkan oleh MC bahwa Bapak X atau Ibu Y adalah pejabat tertentu dengan posisi yang tinggi, nanti ya jika kita papasan di lift atau di toilet, kayaknya kita jauh lebih mudah senyum lebar ke Bapak X atau Ibu Y itu.

*

Senyum – Niat

Hal lain dalam senyum juga adalah tentang niat. Kita akan berfikir berkali-kali untuk tidak tersenyum manis sekuat tenaga (lebay) untuk orang-orang yang kita nilai lebih ‘tinggi’.

“senyum ah, ntar dibilang sombong ga sopan kalo ga senyum.”

“ Seyum dikitlah biar dinilai hangat.”

“Senyumlah biar kenal, siapa tau nanti ada perlu.. “ dsb dsb dsb

 

Lain halnya ketika bertemu dengan orang-orang yang kita anggap lebih ‘rendah’.

“Ah ga senyum juga gak apa-apa..”

“ Pentingnya apa gw harus senyum segala ke dia”

“dia siapa harus gw senyumin, yang ada dia harus senyum hormat ke gw.. “ dsb dsb dsb.

Betapa kadang kala senyum itu dipenuhi berbagai niatan yang berbeda-beda. Ah senyum itu relatif mudah, tapi menjaga niat untuk senyum itu tidak mudah..

*

Senyum – Mindset

Ternyata senyum tak semudah itu ya. Senyum itu tidak hanya urusan menarik bibir 2 cm ke kanan dan ke kiri, tapi ia terkait erat dengan mindset. Halah… aya urusanna naon seuri jeung si mindset J

Iya, ketika mindset kita terhadap semua orang itu setara, bahwa yang disyaratkan di hadist itu adalah senyum dihadapan saudaramu… entah itu lebih tinggi, lebih rendah, lebih kaya, lebih miskin, pejabat tinggi, pegawai biasa, ketika kita senyum maka ia bernilai sedekah. Tidak kemudian senyum kepada pejabat itu nilainya lebih tinggi sedekahnya, tidak. Sama saja. Masihkah mau memilah-milah kepada siapa kita akan tersenyum, padahal di sisi Allah semua manusia itu sama, setara, yang membedakan hanya nilai ketakwaannya.

Jadi ya, adillah dalam tersenyum.. tata mindset dan hati kita ketika tersenyum.. Senyumlah yang manis dan hangat, entah itu pada atasan, kolega, bawahan, supir angkot, OB, pejabat, juga pada bang Nicholas Saputra..  hehehhe..
***
Disalin dari postingan saya di FB :)

Sumber gambar : islamnkri.com

Tags: Artikel Umum