Endang Yuni Purwanti – Blog

Ini Bukan Tentang Seribu Dua Ribu, Tapi ……

July 14th, 2016 · No Comments

yohanamaylinda3

 

Alkisah ada seorang perempuan berjilbab, agak gendut (agak???), ga cantik, biasa ajah (to be honest hehehee), sebut saja namanya “Witi” (ga ada yang namanya Witi kan??), yang seperti biasa menaiki Honda 125D untuk menempuh perjalanan 25 KM pulang pergi dari rumahnya menuju tempat kerjanya di Dramaga.

Seperti biasa, sore itu ia menempuh jalur Jalan Raya Dramaga – Terminal Bubulak – Yasmin – Jalan Baru – Pajajaran.  Seperti biasa pula, sore hari di pertigaan jalan antara dari arah Rumah Makan Mekar Wangi – Terminal Bubulak dan ke arah Cifor ada kemacetan. Motor, mobil, truk dan berbagai jenis kendaraan lainnya berebutan mendahului masuk ke jalur yang ia inginkan, termasuk Witi.

Sore itu ada 2 orang pak ogah yang mengatur pertigaan jalan tersebut. Witi antri memasuki jalur dari arah Rumah Makan Mekar Wangi ke arah Terminal Bubulak. Karena merasa akan belok kanan, Witi pun mengambil jalur sebelah kanan.  Ketika Witi berusaha mengambil jalur kanan, seorang pak ogah dengan keukeuh tidak mau bergeser dan terus bilang motor di sebelah kiri alias masuk keluar area jalan yang ditentukan. Witi tetap berusaha memajukan motornya, eh pak ogahnya keukeuh ga kasih jalan..ya kali ditabrak, kan ga mungkin.. Witi mengalah, dia melipir ke sebelah kiri.

Sesederhana itu tapi Witi telah tersakiti… tsahhhh… lebay hehehee… Tapi serius, ada sisi terdalam di hati Witi yang tersakiti. Apakah karena Witi tidak memberi uang seribu, kemudian pak ogah bisa bebas melarang Witi masuk ke sebelah kanan?? Helloww.. bukankah Witi juga seorang pembayar pajak yang taat, Witi juga berhak untuk menikmati fasilitas jalan itu, no matter Witi memberi uang seribu atau tidak. Lalu, apa hak dan kewenangan pak ogah melarang Witi?

Duh, ini diskrimasi namanya, tidak adil. Karena mobil atau truk memberi ia 1000-2000 rupiah, lalu dia memberi akses lebih leluasa, sedangkan Witi sebagai pengendara motor yang tidak memberikan sepeser rupiah dipaksa masuk jalur diluar jalan. Asli, bukan masalah rupiah, tapi itu diskriminasi bung!!!

Diskriminasi menurut KBBI adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya). Nah, dalam hal ini, Witi telah diberlakukan berbeda hanya karena ia tidak memberikan seribu ke pak ogah itu, padahal ia adalah sessama warga negara yang juga punya hak menggunakan jalan yang dibangun dari dana yang salah satunya bersumber dari pajak yang dibayarkan oleh Witi.  (Yuk… urusan disuruh melipir ke kiri aje jadi panjang ye… )

And u know, diskriminasi seperti itu, yang kesannya remeh temeh, ternyata juga kadang terjadi di tempat lain di sekitar kita. Misalkan, di suatu tempat, saat ini masih berlangsung, Witi harus membayar 1000 untuk parkir di lokasi tersebut, pun jelas tertera stiker instansi dan menyebutkan dia bagian dari instansi tersebut. Tapi Witi tidak pernah melihat mobil yang masuk lokasi tersebut dimintai karcis parkir berbayar.  Please, tell me why???

Jangan bilang cuma bayar seribu, di mall bayar juga lebih mahal dari itu. Ini bukan tentang 1000 atau 2000 atau ribu ribu yang lain, tapi diskriminasinya itu yang tidak berkeadilan. Adil itu tidak berarti sama rata sama rasa, adil itu proporsional,  yang membuat semua pihak merasa nyaman.

Baiklah, Witi mo pulang dulu ya, moga ga ketemu pa ogah itu  lagi :)

 

Tags: Artikel Umum