Endang Yuni Purwanti – Blog

Entries Tagged as 'Artikel Umum'

Ini Bukan Tentang Seribu Dua Ribu, Tapi ……

July 14th, 2016 · No Comments

yohanamaylinda3

 

Alkisah ada seorang perempuan berjilbab, agak gendut (agak???), ga cantik, biasa ajah (to be honest hehehee), sebut saja namanya “Witi” (ga ada yang namanya Witi kan??), yang seperti biasa menaiki Honda 125D untuk menempuh perjalanan 25 KM pulang pergi dari rumahnya menuju tempat kerjanya di Dramaga.

Seperti biasa, sore itu ia menempuh jalur Jalan Raya Dramaga – Terminal Bubulak – Yasmin – Jalan Baru – Pajajaran.  Seperti biasa pula, sore hari di pertigaan jalan antara dari arah Rumah Makan Mekar Wangi – Terminal Bubulak dan ke arah Cifor ada kemacetan. Motor, mobil, truk dan berbagai jenis kendaraan lainnya berebutan mendahului masuk ke jalur yang ia inginkan, termasuk Witi.

Sore itu ada 2 orang pak ogah yang mengatur pertigaan jalan tersebut. Witi antri memasuki jalur dari arah Rumah Makan Mekar Wangi ke arah Terminal Bubulak. Karena merasa akan belok kanan, Witi pun mengambil jalur sebelah kanan.  Ketika Witi berusaha mengambil jalur kanan, seorang pak ogah dengan keukeuh tidak mau bergeser dan terus bilang motor di sebelah kiri alias masuk keluar area jalan yang ditentukan. Witi tetap berusaha memajukan motornya, eh pak ogahnya keukeuh ga kasih jalan..ya kali ditabrak, kan ga mungkin.. Witi mengalah, dia melipir ke sebelah kiri.

Sesederhana itu tapi Witi telah tersakiti… tsahhhh… lebay hehehee… Tapi serius, ada sisi terdalam di hati Witi yang tersakiti. Apakah karena Witi tidak memberi uang seribu, kemudian pak ogah bisa bebas melarang Witi masuk ke sebelah kanan?? Helloww.. bukankah Witi juga seorang pembayar pajak yang taat, Witi juga berhak untuk menikmati fasilitas jalan itu, no matter Witi memberi uang seribu atau tidak. Lalu, apa hak dan kewenangan pak ogah melarang Witi?

Duh, ini diskrimasi namanya, tidak adil. Karena mobil atau truk memberi ia 1000-2000 rupiah, lalu dia memberi akses lebih leluasa, sedangkan Witi sebagai pengendara motor yang tidak memberikan sepeser rupiah dipaksa masuk jalur diluar jalan. Asli, bukan masalah rupiah, tapi itu diskriminasi bung!!!

Diskriminasi menurut KBBI adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya). Nah, dalam hal ini, Witi telah diberlakukan berbeda hanya karena ia tidak memberikan seribu ke pak ogah itu, padahal ia adalah sessama warga negara yang juga punya hak menggunakan jalan yang dibangun dari dana yang salah satunya bersumber dari pajak yang dibayarkan oleh Witi.  (Yuk… urusan disuruh melipir ke kiri aje jadi panjang ye… )

And u know, diskriminasi seperti itu, yang kesannya remeh temeh, ternyata juga kadang terjadi di tempat lain di sekitar kita. Misalkan, di suatu tempat, saat ini masih berlangsung, Witi harus membayar 1000 untuk parkir di lokasi tersebut, pun jelas tertera stiker instansi dan menyebutkan dia bagian dari instansi tersebut. Tapi Witi tidak pernah melihat mobil yang masuk lokasi tersebut dimintai karcis parkir berbayar.  Please, tell me why???

Jangan bilang cuma bayar seribu, di mall bayar juga lebih mahal dari itu. Ini bukan tentang 1000 atau 2000 atau ribu ribu yang lain, tapi diskriminasinya itu yang tidak berkeadilan. Adil itu tidak berarti sama rata sama rasa, adil itu proporsional,  yang membuat semua pihak merasa nyaman.

Baiklah, Witi mo pulang dulu ya, moga ga ketemu pa ogah itu  lagi :)

 

Tags: Artikel Umum

Blusukan ala Umar ra

June 22nd, 2016 · No Comments

aware

Blusukan, kata yang dikenal luas setelah dilakukan Pak Jokowi dan diberitakan di media massa, ternyata sudah dikenal sejak lama, bahkan salah satu kisah Umar ra yang terkenal adalah ketika Umar ra blusukan memantau keadaan rakyatnya di pinggir Madinah sebagaimana rutin hidupnya sebagai Amirul Mukminin. Pada saat blusukan itu Umar mendengar dialog kejujuran penjual susu yang menolak untuk mencampur dengan air, bukan karena takut akan Umar, tapi karena takut pada Tuhannya Umar.

Dulu yang saya ingat dari kisah tersebut adalah bagian kejujuran sang penjual susu, tapi ada sisi lain yang menarik dari kisah tersebut yaitu blusukannya Umar ra ke tengah-tengah rakyatnya. ‘Operasi senyap’  tersebut dilakukan Umar ra untuk mengetahui bagaimana riil rakyatnya dalam keseharian, mengetahui langsung dari suara rakyatnya, apa yang mereka perbincangkan, apa yang mereka mereka khawatirkan, apa yang menjadi isu utama, mendengar dari versi rakyat.

Jadi inget salah satu acara program televisi beberapa tahun lalu, ada acara dimana pimpinan tinggi di suatu perusahaan itu menyamar jadi pegawai biasa. Ngobrol, berbincang santai tentang semua isu di perusahaan itu, termasuk pendapat tentang dirinya. Tentu saja ada beberapa hal yang membuatnya terkejut, tapi setidaknya ia mendapatkan informasi langsung tentang apa yang dirasakan pegawainya dalam perusahaan tersebut, termasuk harapan dan kegalauan yang sedang mereka rasakan.

Mungkin untuk menyamar jadi orang lain lalu mencari-cari informasi suasana terkini akan terlihat gimanaaa gitu yes, banyak cara kekinian yang sering digunakan, antara lain adalah stalking alias kepoin akun sosmed. Misalkan melalui Facebook. Ini cara murah meriah tapi cukup informatif. Karena era sekarang ini, orang cenderung terbuka menuangkan perasan dan berbagi berbagai hal, termasuk masalah pekerjaan. Juga sedikit aware pada status dan profic WA/BBM/akun sosmed lainnya. Cara lain yang bisa dilakukan adalah sesekali minta ijin baca percakapan pada grup whatsapp tertentu yang anggotanya representatif untuk mewakili pendapat secara umum, baca diskusi yang sedang hangat menjadi perbincangan pada grup tersebut, walaupun di grup tidak semua aktif, tapi setidaknya kita tahu apa yang sedang ramai dibicarakan.

Apapun caranya, intinya adalah sikap mau peduli, mau mendengar, mau melihat harapan-harapan dan kekhawatiran kegalauan yang terjadi di sekitar kita dengan seksama, dari kacamata orang lain, yang mungkin akan membuat kita lebih bisa menteladani kepemimpinan Umar ra. Umar ra, sahabat yang tegas pada kebathilan, tapi luar biasa peduli pada yang membutuhkan,  bahkan ia sendiri yang mengangkat karung-karung makanan di tengah malam ke pintu-pintu rumah rakyatnya yang membutuhkan.

Jadi mulai aware lah pada status sosmed : BBM,  WA, etc dari staf, kolega, anggota keluarga kita..hehhehe.. Ayo stalking.. stalking positif loh ya… hehehee :)

Gambar dari : www.police.belleville.on.ca

 

 

 

 

 

Tags: Artikel Umum

Senyum Berkeadilan

March 23rd, 2016 · No Comments

Logo-AYO-NGGUYU

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Attirmidzi).

Salah satu hadist terkenal yang pertama kali saya dengar pas jaman pengajian ba’da magrib dulu. Masih segar dalam ingatan saya ketika Kak Kholis, Kak Imam, Kak Ibnu dengan sabarnya membimbing kami mengaji di sela kesibukannya sebagai mahasiswa IPB, termasuk mengajarkan kami hadis ini.

Nah, salah satu yang sangat saya sukai dari hadist yang disebutkan pas pengajian itu adalah hadis ini, bahwa senyum itu sedekah. Pertama kali dengar hadist itu saya seneeeengg banget. Wah senyum saja dinlai sedekah. Ah betapa gampangnya sedekah.. Asiiikk.. Sedekah tapi ga pake biaya, tidak mengurangi saldo rekening, modal pasta gigi dan mouthwash aja hehehehhe. Apalagi saya termasuk sanguinis, wah perkara senyum sampe ketawa ketiwi itu hal yang relatif mudah dilakukan, dimana saja kapan saja. Kucing dan pohon randu di depan IPB BS saja saya sapa… sanguinis apa gila yak hhehehe…

Tapi ya ternyata, seiring berjalannya waktu, alias menua (hehehhehe), ternyata perkara senyum ini bukan urusan yang gampang. Harus berkeadilan. Halah.. yo.. senyum pake adil segala. Iya, senyum itu harus adil,  dengan mindset yang benar, dan niat yang tulus..

*

Senyum – Adil

Adil yang saya maksud adalah betapa urusan menarik bibir 2 cm ke kanan dan ke kiri itu jadi mudaaaahhh bahkan mungkin refleks ketika kita berhadapan dengan orang yang kita anggap lebih ‘tinggi’ kedudukannya dengan kita. Entah itu tinggi dari segi jabatan, pangkat golongan, senioritas, harta, level bisnis, level karir, type rumah, jenis mobil, dsb.. Ah senyum itu langsung terukir sempurna bahkan kita bisa menahan ukiran senyum itu berlama-lama ketika berhadapan dengan mereka yang lebih ‘tinggi’.

Pada kasus lain, kita juga relatif lebih mudah senyum pada orang yang ganteng atau cantik, perlente, pake jas rapih, pake seragam tertentu. Ciizzz.. senyum itu gampang banget, ga pake bersusah payah. Pun kita ga kenal dia dan baru saja ketemu. Betapa ga adilnya, secara saya merasa tidak cantik hehehhehe…
Urusan senyum ini yang jadi perjuangan adalah ketika harus mengukir senyum yang sama manisnya, sama hangatnya kepada orang-orang yang (kita anggap) lebih ‘rendah’ dari kita, entah itu jabatan, pekerjaan, kedudukan, senioritas, harta, level karir, latar belakang keluarga, harta, type rumah, jenis mobil, kecantikan, kegantengan, dsb.

Saya mungkin akan dengan mudah senyum lebar pas papasan sama Nicholas Saputra, pun saya dan dia ga saling kenal. (Siapa juga gw dikenal ama Nicko.. halah so akrab panggil nicko.. daripada nicky hehehehe) Secara ganteng maksimalnya itu bikin senyum itu jadi reflek aja gitu hehehhe.. just kidding… Belum pernah sih ketemu, kalo beneran ketemu bisa jadi gitu heheheh… J

Begitu juga ketika dalam satu acara diperkenalkan oleh MC bahwa Bapak X atau Ibu Y adalah pejabat tertentu dengan posisi yang tinggi, nanti ya jika kita papasan di lift atau di toilet, kayaknya kita jauh lebih mudah senyum lebar ke Bapak X atau Ibu Y itu.

*

Senyum – Niat

Hal lain dalam senyum juga adalah tentang niat. Kita akan berfikir berkali-kali untuk tidak tersenyum manis sekuat tenaga (lebay) untuk orang-orang yang kita nilai lebih ‘tinggi’.

“senyum ah, ntar dibilang sombong ga sopan kalo ga senyum.”

“ Seyum dikitlah biar dinilai hangat.”

“Senyumlah biar kenal, siapa tau nanti ada perlu.. “ dsb dsb dsb

 

Lain halnya ketika bertemu dengan orang-orang yang kita anggap lebih ‘rendah’.

“Ah ga senyum juga gak apa-apa..”

“ Pentingnya apa gw harus senyum segala ke dia”

“dia siapa harus gw senyumin, yang ada dia harus senyum hormat ke gw.. “ dsb dsb dsb.

Betapa kadang kala senyum itu dipenuhi berbagai niatan yang berbeda-beda. Ah senyum itu relatif mudah, tapi menjaga niat untuk senyum itu tidak mudah..

*

Senyum – Mindset

Ternyata senyum tak semudah itu ya. Senyum itu tidak hanya urusan menarik bibir 2 cm ke kanan dan ke kiri, tapi ia terkait erat dengan mindset. Halah… aya urusanna naon seuri jeung si mindset J

Iya, ketika mindset kita terhadap semua orang itu setara, bahwa yang disyaratkan di hadist itu adalah senyum dihadapan saudaramu… entah itu lebih tinggi, lebih rendah, lebih kaya, lebih miskin, pejabat tinggi, pegawai biasa, ketika kita senyum maka ia bernilai sedekah. Tidak kemudian senyum kepada pejabat itu nilainya lebih tinggi sedekahnya, tidak. Sama saja. Masihkah mau memilah-milah kepada siapa kita akan tersenyum, padahal di sisi Allah semua manusia itu sama, setara, yang membedakan hanya nilai ketakwaannya.

Jadi ya, adillah dalam tersenyum.. tata mindset dan hati kita ketika tersenyum.. Senyumlah yang manis dan hangat, entah itu pada atasan, kolega, bawahan, supir angkot, OB, pejabat, juga pada bang Nicholas Saputra..  hehehhe..
***
Disalin dari postingan saya di FB :)

Sumber gambar : islamnkri.com

Tags: Artikel Umum

Salam untuk Biro Hukum, Promosi dan Humas IPB dari Puncak R1NJ4N1 3726 mdpl

October 24th, 2015 · No Comments

 

Salam dari Puncak Rinjani untuk BHPH IPB

Rinjani, keelokan pemandangannya sudah terkenal sejak lama. Tak heran jika banyak sekali turis, baik domestik maupun asing, yang berusaha menggapai puncaknya.

Benar saja, Rinjani dari awal pendakian sampai puncaknya kereeeen pake banget banget banget.. Masya Allah.. Asli, Rinjani recommended banget deh. Wajib dicoba 😀

**

Seperti menggapai puncak Rinjani, aku tak akan mundur karena aku tak berani melanjutkan perjalanan. Selama aku yakin, track ini bener, yang akan membuatku mundur hanyalah alam dan petugas TNGR. Titik. In sya Allah, tanpa dua hal itu aku akan berusaha terus melangkah.

Pun langkahku sangat lambat, beberapa langkah kemudian terhenti. Beberapa langkah lalu terhenti lagi. Pun harus seperti itu terus sampai puncak nanti.

Pun aku harus seringkali terhenti di satu titik cukup lama, untuk sekedar menguatkan hati, mengatur napas, menyusun tenaga-tenaga yang tersisa.

Juga ketika aku harus berkali-kali terjatuh, merosot di track pasir, kena hembusan debu-debu dari mereka yang terlebih dahulu turun, juga menggigil tanpa jaket, merasakan jari-jari tangan dan bibir yang mulai membeku kedinginan..

Aku akan terus melangkah sampai aku pegang plat itu, plat Puncak Rinjani. Karena aku tau ia tetap setia disana, tidak akan bergeser, selama apapun aku menggapainya, ia menungguku disana.

Ya, Rinjani, ia akan tegak berdiri menjadi saksi pernah terpatrinya sebuah keberanian melangkah pada sebait cerita yang tak pernah selesai, karena semua belum dimulai.

-cuplikan posting tentang Rinjani-

Di Puncak Rinjani

**

latepost – photo by Silvia

Tags: Artikel Umum

Menggapai Atap Sulawesi 3478 mdpl

June 9th, 2015 · No Comments

10584036_10205584470364430_4508259791109679530_n

Kadang ada beberapa hal yang terjadi begitu saja, tanpa direncanakan jauh-jauh hari. Begitupun perjalananku ke tanah Sulawesi pada bulan Mei kemarin. Hanya berawal dari mengikuti obrolan di grup, akhirnya tertarik untuk ikut menjelajahi Gunung Latimojong, salah satu gunung tertinggi di Indonesia yang sebenarnya tidak masuk “100 My Bucket List”.

Bagi saya sendiri, Latimojong agak asing dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Indonesia. Ya jika dibandingkan dengan Kerinci di Sumatera ataupun Rinjani di Nusa Tenggara Barat, saya lebih sering baca ittinery perjalanan ke dua gunung tersebut, dibanding Latimojong.

Ya bermula dari chat di awal April 2015, kemudian mencari kemungkinan ijin cuti kerja, dapat lampu hijau ijin cuti, siip.. mulai searching tiket, alhamdulillah semuanya dimudahkanNya. Akhirnya jadilah menapakan kaki di Sulawesi.

Bicara tentang Sulawesi, khususnya Makassar, seperti ada kenangan sendiri tentang kota itu. Hampir saja menjadi warga Makassar ketika beberapa tahun lalu pernah lulus tes CPNS di suatu instansi dengan penempatan di Makassar, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya tidak diambil hehehheee… Karenanya, perjalanan ke Makassar kali ini seperti melakukan sesuatu yang tertunda.. :)

Seperti biasa, sebelum nanjak ke suatu gunung, biasanya saya akan mencari berbagai referensi catatan perjalanan ke gunung tersebut, jika ada peta topografisnya juga.  Tapi ya, sekarang ambil cuti juga berarti harus menyelesaikan semua PR mendesak sebelum cuti, biar bisa cuti dengan damai dan tidak membebani orang lain di kantor. Siip mari kita mulai menikmati Latimojong.. ^.^

 

***

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Latimojong : Akar, Lumut dan Jurang.. juga sinyal :)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Akar..

Jelajahilah gunung hutan dengan damai, tanpa terburu waktu, tanpa terkoneksi jaringan internet, hingga tiap langkah yang kau jejakan akan kau nikmati. Begitupun dengan Latimojong yang tracknya diawali kebun kopi penduduk, dilanjutkan track penuh akar-akar pepohonan. Dari landai, melipir hingga track akar yang derajat kemiringannya masya Allah dah hehhehee.. Tapi ya itu tadi, apapun jalurnya ketika melangkah dengan kedamaian semua akan terasa menyenangkan.. ^.^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lumut..

Salah satu ciri khas Latimojong yang membedakannya dengan gunung lain di Indonesia adalah adanya hutan lumut beraneka jenis yang indah dipandang sepanjang track diatas pos 4.  Warna hijau kekuningan segar luar biasa indah menyejukan mata. Jika pernah mengunjungi Taman Lumut di Kebun Raya Cibodas, nah hutan lumut Latimojong ini versi asli dan raksasanya. Masya Allah.. kereen banget. Kayak sofa hijau yang sejuk. Letih lelah menapaki track pendakian, serasa terhibur aneka warna lumut terhampar di kiri kanan track, dan kesejukan ketika telapak tangan menyentuh permukaanya.
11099980_10205533625053329_4221217515798764203_n

Jurang..

Kekhasan lain dari Latimojong adalah jurang yang akan ditelusuri mulai ketika naik jeep hardtop menuju Dusun Karangan, dusun terakhir sebelum track pendakian, hingga jurang yang harus dilalui dengan berpegangan akar dan ranting dahan dari pos 1 ke Pos7. Seru..^.^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sinyal..

Satu lagi kekhasan Latimojong adalah sinyal.  Jika gunung lain akan sulit didapati sinyal telepon, di Latimojong jika beruntung akan didapati sinyal di Pos 1, Pos 4 dan di Puncak Rante Mario. Ya, di Puncak Rante Mario bisa update status, bisa kasih kabar ke seantero jagat raya bahwa kita sedang di Puncak Rante Mario hehehee.. Tapi saya sendiri prefer hp off selama nanjak Latimojong. Secara, siapa juga yang saya akan telpon.. [curhat mode on hehheee..] ^.^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setiap perjalanan menyisakan banyak cerita.

Tak hanya tentang track yang khas, dingin yang menggigit ataupun pemandangan malam berbintang.

Tapi lebih dari itu, perjalanan sering kali mengajarkan kita mengenal lebih dalam pada diri kita sebenarnya. Seberapa kuat tekad kita menggapai puncak, juga seberapa besar kesabaran kita menapaki beragam jalur pendakian.

Pendakian sejatinya adalah perjalanan panjang tafakur dalam diam. Senyap mengagumi keagungan karya Tuhan yang luar biasa. Allahu akbar..

“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” [QS.Arrahman]

***

Btw sembari menunggu jadwal pulang ke Jakarta, turun dari Latimojong, diajak kawan asli Maros ke Gugusan Karst Rammang-Rammang Maros. Pemandangan bebatuan purba yang luar biasa, diakhiri penyusuran sungai dengan mangrove di sisi kiri kanan sungai, luar biasa indahnya [lihat foto di awal artikel] ^.^

Ke Sulawesi Selatan? Harus mampir ke Gugusan Karst Rammang-Rammang Maros. Asli recommended ^.^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Tags: Artikel Umum

Kebaikan ‘Sederhana’ Prof. Alvi

January 6th, 2015 · No Comments

Di USU

 

Siang itu seperti biasanya jalanan (tol)  ibukota padat merayap, kami berenam bergerak menuju Universitas Sumatera Utara, salah satu PTN terbaik di pulau Sumatera. Perjalanan dinas kami kali ini adalah kunjungan kerja terkait pengelolaan PTNbh yang saat ini memasuki era barunya setelah berubah dari PT BHMN, USU dan IPB termasuk dari 7 PTN awal yang menjadi PT BHMN kemudian menjadi PTNbh. Tapi tulisan ini bukan menceritakan tentang hasil kunker itu, tapi tentang pertemuan singkat saya dengan seorang profesor yang bagi saya sangat berkesan.

Namanya Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H., M.S., seorang profesor Hukum Pidana/Lingkungan di USU. Beliau menjabat sebagai Wakil Direktur II Sekolah Pascasarjana USU, juga sebagai Sekretaris Majelis Wali Amanat USU (2004-2009, 2009-2014). Kunjungan kerja kami sebenarnya tidak diagendakan untuk bertemu dengan beliau, tapi karena Prof. tersebut telah beberapa kali bertemu dalam pertemuan PTNbh maupun Derden Verzet USU dalam perkara susu formula, maka kami secara informal mengabari bahwa kami sedang dalam perjalanan ke USU.

Sesuai rencana semula, Rabu malam kami sampai di Medan, dan Kamis pagi kami akan bertemu salah satu Kepala Biro di USU. Kami pun telah merencanakan menyewa mobil untuk memudahkan kami dari hotel menuju USU.  Kamis pagi, saat sarapan sebelum ke USU, Prof. Alvi menelpon, selain mengajak bertemu, Prof. Alvi menawarkan untuk menjemput kami dari hotel ke USU. Tentu sungkan kami menerima tawaran tersebut, kami pun menolak secara halus, beralasan bahwa kami berenam tentu akan merepotkan, dan alasan-alasan penolakan lainnya. Tapi ternyata Prof. Alvi tetap akan menjemput kami ke hotel.

Jam telah menunjukan pukul 8.30, sebagian dari kami telah berkumpul di lobby bersiap menuju USU. Saya yang menyusul kemudian ke lobby bertemu Prof. Alvi yang ternyata telah sampai di hotel. Sungkan saya menyapa, da saya mah siapa atuh.. wajar jika beliau lupa, eh beliau menyapa “kalo dengan mbaknya kita pernah bertemu ya..”
Wah beliau ingat saya ternyata.. horee.. :) Padahal hanya beberapa kali bertemu, itu pun saya hanya mendampingi atasan. Yah, seperti kesan pertama ketika bertemu beliau beberapa tahun lalu, seorang Profesor yang sangat ramah.

Baiklah, tim kami sudah lengkap, kami berjalan menuju parkiran dimana mobil Prof. Alvi terparkir. Karena kami saja sudah berenam, saya bayangkan mungkin 2 mobil, atau supir Prof. Alvi menunggu di mobil. Dan ternyata, Prof. Alvi langsung yang menyetir mobil membawa kami ke USU. Wah.. masya Allah, diluar perkiraan saya, kirain supirnya aja yang jemput ke hotel bawa mobil beliau, atau beliau bawa supir, eh ini beliau langsung yang menjemput dan menyetir buat kami. Tersanjung, terharu, secara ya saya kan jarang sekali berinteraksi dengan Profesor, apalagi berada di belakang kemudi alias disetirin, seriusan double tersanjung deh kami.. eh saya.. :)

Pun beliau itu beralasan kenapa jemput kami karena kebetulan letak rumah beliau  dan hotel searah menuju USU. Ah Prof, sepertinya jarang ya yang mau sengaja menjemput demikian, walaupun searah. Dan ternyata kebaikan beliau tidak berhenti di situ saja. Setelah menanyakan agenda kami selama di Medan, dalam perjalanan ke USU, Prof. Alvi pun menelpon anak (atau kerabatnya) untuk mengantarkan kami selama di Medan. Luar biasa baik ya Prof ini :)

Selain kebaikan pagi itu, ketika kami mampir ke kantor Prof. Alvi untuk pamitan, dalam waktu yang singkat yang ada beliau sempat bercerita bagaimana kiprah beliau sebagai Wakil Direktur II di Sekolah Pascasarjana USU. Dari cerita singkat itu pun kami belajar bahwa dalam melakukan perubahan itu pasti menimbulkan ekses, tapi teruslah bergerak mewujudkan perubahan menjadikan organisasi yang jauh lebih baik, buktikan bahwa di tangan kita, organisasi itu menjadi jauh lebih baik.

Jadi ya, kalo ada peribahasa padi semakin berisi semakin merunduk, itulah gambaran Prof. Alvi bagi saya.  Gelar akademiknya sebagai seorang Profesor tidak membuatnya segan untuk melakukan kebaikan ‘sederhana’ seperti menjemput dan menyetiri kami. May Allah always bless you, Sir.

Eh trus ya, pertemuan singkat itu juga membuat saya berkaca, sudahkah saya sebaik beliau? Jika saya sangat ‘tersanjung’ dengan kebaikan beliau, tentu orang lain pun akan merasakan hal yang sama jika saya melakukan hal serupa.

Jadi ya itulah sejumput cerita saya saat ke USU, tentang kebaikan-kebaikan ‘sederhana’ yang sangat berkesan buat saya :) Semoga saya bisa belajar dari kebaikan beliau tersebut. cmiiw.

_
Keterangan foto :
Saya terlalu sungkan untuk meminta foto bersama beliau, jadi fotonya di depan ikon USU aja :) [sstt… ini mah ngeles.com.. padahal mah mo anarkis.. eh narsis..  hhehehhee.. :D]

Tags: Artikel Umum · Uncategorized

Visa Ke Surga

December 3rd, 2013 · No Comments

 

visa ke surga

 

Mencari buku bagus? Buku Visa ke Surga bisa menjadi salah satu pilihan menarik. Sebuah  catatan harian (alm.) Houtman Zainal Arifin berisi kisah nyata kehidupannya yang inspiratif, termasuk kisahnya dari seorang OB menjadi Vice President sebuah bank swasta internasional di Jakarta. Juga tentang indahnya berbagi, tolong-menolong antar sesama ^.^

 

 

Tags: Artikel Umum