Endang Yuni Purwanti – Blog

Entries from April 2018

Nikmat Kecil yang Kadang Terlupa

April 17th, 2018 · No Comments

IMG-20180417-WA0031

Semangkuk Creamy Delight menjadi menu yang saya pilih malam itu, melepas penat sehabis rapat. Tak seperti biasanya, malam itu saya memilih meja yang posisinya di tengah, sehingga saya cukup leluasa memandang sekitar, termasuk ke arah outlet-outlet makanan.
.
Perpaduan puding mangga, kacang merah, cincau, sari kelapa, dan susu segar itu enak sekali. Tak heran beberapa kali rencana diet gagal dan quote “Count blessings not calories” jadi alasan sok bijak yang menguatkan tekad saya untuk menikmati kelezatan Creamy Delight itu.
.
Suap demi suap saya nikmati sambil memperhatikan suasana sekitar. Ada keluarga yang sedang menikmati makan malam sambil megang ponsel semua, ada anak kecil yang heboh makan mie, ada juga orang yang berduaan bikin baper hehhehee
.
Diantara kebaperan saya, saya baru menyadari ada beberapa orang yang sejak saya duduk menikmati semangkuk Creamy Delight tadi belum sekejap pun duduk. Mereka berdiri, entah itu melayani pembeli yang silih berganti datang dan pergi, ada juga yang hilir mudik membersihkan meja dan lantai, ada juga bapak petugas keamanan yang berdiri memantau keadaan.
.
Jika berdiri dalam keseharian pekerjaan saya adalah pilihan, maka bagi mas-mba tersebut bukan pilihan. Dalam pekerjaan mereka, berdiri adalah keharusan. Sedangkan bagi saya, jika bosan di depan laptop, saya bisa sesekali berjalan-jalan ke meja rekan kerja lainnya, ataupun sekedar membuat kopi dan rehat sejenak. Bahkan, jika saya merasa butuh ketenangan lebih untuk konsentrasi menelaah, saya bisa membawa berkas pekerjaan saya ke tempat lain yang suasananya lebih tenang.
.
Ah, masalah duduk dan berdiri ini mungkin bagi sebagian orang lain adalah hal kecil dan sangat biasa, tapi bagi saya, saat itu mengingatkan betapa nikmatnya bekerja dengan bisa lebih banyak duduk dan memiliki pilihan mau duduk ataupun berdiri kapan pun saya kehendaki. Di sisi lain, mungkin saya tidak akan kuat jika harus bekerja dengan lebih banyak berdiri seperti mas mba bapak ibu tersebut.
.
Yang paling saya sadari lainnya adalah gara-gara duduk berdiri itu tak sadar semangkuk Creamy Deligt saya tinggal tersisa beberapa suap. Ini mah lebih ke laper aja kali ya :)
.
Episode duduk-berdiri ini berlanjut keesokan harinya saat saya harus mengantar Qowiy, Motor Supra X 125D jadul saya mengisi tangkinya. Diantara antrian itu saya melihat mas-mas petugas POM tersebut berdiri melayani pengisian bensin motor dan mobil yang datang. Terus berdiri tanpa sesekali duduk diantara mereka melayani pengisian bensin.
.
Tak berhenti di POM bensin, episode duduk berdiri ini berlanjut sore hari saat pulang melintasi jembatan Sungai Cisadane melihat seorang bapak penjual mie ayam mendorong gerobaknya beranjak pulang, juga bapak penjual mpek-mpek dengan hal yang sama. Mereka harus mendorong gerobaknya menyusuri jalanan yang kadang harus menanjak dan berebutan dengan pengguna lalu lintas lainnya. Lebih trenyuh lagi jika ketika sudah menjelang magrib seperti itu dagangannya masih terlihat banyak. Kadang hanya bisa mendoakan semoga diberi kemudahan rezeki dan diberi kesehatan dan kesabaran.
.
Episode tentang duduk berdiri ini berakhir saat saya melintasi rel commuter line Jakarta Bogor dengan pemandangan penumpang penuh sesak berdiri berdesakan di dalamnya. Tantangan transportasi keseharian yang harus saya hadapi ‘hanya’ macet di beberapa titik saat pulang dan pergi bekerja. Saya tidak harus berdiri berjam-jam berdesakan setiap hari pulang dan pergi di gerbong commuter line tersebut.
.
Beberapa episode duduk berdiri ini membuat saya tersadar, banyak hal dalam keseharian pekerjaan saya yang harus lebih banyak disyukuri. Pun ruang kerja saya minimalis, tapi setidaknya saya punya meja kerja lengkap dengan fasilitas laptop, listrik, telepon, dan juga internet. Belum lagi pemandangan rumput, pohon, dan langit yang setiap hari menjadi pemandangan keseharian kerja saya. Walaupun saya memimpikan ruang kerja dengan pemandangan Puncak Gunung Salak hehhehe
.
Hal yang harus saya syukuri juga tentang pekerjaan saya yang memberi kesempatan saya mempelajari banyak hal, dan di atas itu semua, dalam pekerjaan ini saya punya pilihan untuk duduk dan berdiri kapan saja saya kehendaki. alhamdulillah.

Bogor, 17 April 2018. 16.58

Tags: Uncategorized