Endang Yuni Purwanti – Blog

Blusukan ala Umar ra

June 22nd, 2016 · No Comments

aware

Blusukan, kata yang dikenal luas setelah dilakukan Pak Jokowi dan diberitakan di media massa, ternyata sudah dikenal sejak lama, bahkan salah satu kisah Umar ra yang terkenal adalah ketika Umar ra blusukan memantau keadaan rakyatnya di pinggir Madinah sebagaimana rutin hidupnya sebagai Amirul Mukminin. Pada saat blusukan itu Umar mendengar dialog kejujuran penjual susu yang menolak untuk mencampur dengan air, bukan karena takut akan Umar, tapi karena takut pada Tuhannya Umar.

Dulu yang saya ingat dari kisah tersebut adalah bagian kejujuran sang penjual susu, tapi ada sisi lain yang menarik dari kisah tersebut yaitu blusukannya Umar ra ke tengah-tengah rakyatnya. ‘Operasi senyap’  tersebut dilakukan Umar ra untuk mengetahui bagaimana riil rakyatnya dalam keseharian, mengetahui langsung dari suara rakyatnya, apa yang mereka perbincangkan, apa yang mereka mereka khawatirkan, apa yang menjadi isu utama, mendengar dari versi rakyat.

Jadi inget salah satu acara program televisi beberapa tahun lalu, ada acara dimana pimpinan tinggi di suatu perusahaan itu menyamar jadi pegawai biasa. Ngobrol, berbincang santai tentang semua isu di perusahaan itu, termasuk pendapat tentang dirinya. Tentu saja ada beberapa hal yang membuatnya terkejut, tapi setidaknya ia mendapatkan informasi langsung tentang apa yang dirasakan pegawainya dalam perusahaan tersebut, termasuk harapan dan kegalauan yang sedang mereka rasakan.

Mungkin untuk menyamar jadi orang lain lalu mencari-cari informasi suasana terkini akan terlihat gimanaaa gitu yes, banyak cara kekinian yang sering digunakan, antara lain adalah stalking alias kepoin akun sosmed. Misalkan melalui Facebook. Ini cara murah meriah tapi cukup informatif. Karena era sekarang ini, orang cenderung terbuka menuangkan perasan dan berbagi berbagai hal, termasuk masalah pekerjaan. Juga sedikit aware pada status dan profic WA/BBM/akun sosmed lainnya. Cara lain yang bisa dilakukan adalah sesekali minta ijin baca percakapan pada grup whatsapp tertentu yang anggotanya representatif untuk mewakili pendapat secara umum, baca diskusi yang sedang hangat menjadi perbincangan pada grup tersebut, walaupun di grup tidak semua aktif, tapi setidaknya kita tahu apa yang sedang ramai dibicarakan.

Apapun caranya, intinya adalah sikap mau peduli, mau mendengar, mau melihat harapan-harapan dan kekhawatiran kegalauan yang terjadi di sekitar kita dengan seksama, dari kacamata orang lain, yang mungkin akan membuat kita lebih bisa menteladani kepemimpinan Umar ra. Umar ra, sahabat yang tegas pada kebathilan, tapi luar biasa peduli pada yang membutuhkan,  bahkan ia sendiri yang mengangkat karung-karung makanan di tengah malam ke pintu-pintu rumah rakyatnya yang membutuhkan.

Jadi mulai aware lah pada status sosmed : BBM,  WA, etc dari staf, kolega, anggota keluarga kita..hehhehe.. Ayo stalking.. stalking positif loh ya… hehehee :)

Gambar dari : www.police.belleville.on.ca

 

 

 

 

 

→ No CommentsTags: Artikel Umum

Nikmat Kecil yang Kadang Terlupa

April 17th, 2018 · No Comments

IMG-20180417-WA0031

Semangkuk Creamy Delight menjadi menu yang saya pilih malam itu, melepas penat sehabis rapat. Tak seperti biasanya, malam itu saya memilih meja yang posisinya di tengah, sehingga saya cukup leluasa memandang sekitar, termasuk ke arah outlet-outlet makanan.
.
Perpaduan puding mangga, kacang merah, cincau, sari kelapa, dan susu segar itu enak sekali. Tak heran beberapa kali rencana diet gagal dan quote “Count blessings not calories” jadi alasan sok bijak yang menguatkan tekad saya untuk menikmati kelezatan Creamy Delight itu.
.
Suap demi suap saya nikmati sambil memperhatikan suasana sekitar. Ada keluarga yang sedang menikmati makan malam sambil megang ponsel semua, ada anak kecil yang heboh makan mie, ada juga orang yang berduaan bikin baper hehhehee
.
Diantara kebaperan saya, saya baru menyadari ada beberapa orang yang sejak saya duduk menikmati semangkuk Creamy Delight tadi belum sekejap pun duduk. Mereka berdiri, entah itu melayani pembeli yang silih berganti datang dan pergi, ada juga yang hilir mudik membersihkan meja dan lantai, ada juga bapak petugas keamanan yang berdiri memantau keadaan.
.
Jika berdiri dalam keseharian pekerjaan saya adalah pilihan, maka bagi mas-mba tersebut bukan pilihan. Dalam pekerjaan mereka, berdiri adalah keharusan. Sedangkan bagi saya, jika bosan di depan laptop, saya bisa sesekali berjalan-jalan ke meja rekan kerja lainnya, ataupun sekedar membuat kopi dan rehat sejenak. Bahkan, jika saya merasa butuh ketenangan lebih untuk konsentrasi menelaah, saya bisa membawa berkas pekerjaan saya ke tempat lain yang suasananya lebih tenang.
.
Ah, masalah duduk dan berdiri ini mungkin bagi sebagian orang lain adalah hal kecil dan sangat biasa, tapi bagi saya, saat itu mengingatkan betapa nikmatnya bekerja dengan bisa lebih banyak duduk dan memiliki pilihan mau duduk ataupun berdiri kapan pun saya kehendaki. Di sisi lain, mungkin saya tidak akan kuat jika harus bekerja dengan lebih banyak berdiri seperti mas mba bapak ibu tersebut.
.
Yang paling saya sadari lainnya adalah gara-gara duduk berdiri itu tak sadar semangkuk Creamy Deligt saya tinggal tersisa beberapa suap. Ini mah lebih ke laper aja kali ya :)
.
Episode duduk-berdiri ini berlanjut keesokan harinya saat saya harus mengantar Qowiy, Motor Supra X 125D jadul saya mengisi tangkinya. Diantara antrian itu saya melihat mas-mas petugas POM tersebut berdiri melayani pengisian bensin motor dan mobil yang datang. Terus berdiri tanpa sesekali duduk diantara mereka melayani pengisian bensin.
.
Tak berhenti di POM bensin, episode duduk berdiri ini berlanjut sore hari saat pulang melintasi jembatan Sungai Cisadane melihat seorang bapak penjual mie ayam mendorong gerobaknya beranjak pulang, juga bapak penjual mpek-mpek dengan hal yang sama. Mereka harus mendorong gerobaknya menyusuri jalanan yang kadang harus menanjak dan berebutan dengan pengguna lalu lintas lainnya. Lebih trenyuh lagi jika ketika sudah menjelang magrib seperti itu dagangannya masih terlihat banyak. Kadang hanya bisa mendoakan semoga diberi kemudahan rezeki dan diberi kesehatan dan kesabaran.
.
Episode tentang duduk berdiri ini berakhir saat saya melintasi rel commuter line Jakarta Bogor dengan pemandangan penumpang penuh sesak berdiri berdesakan di dalamnya. Tantangan transportasi keseharian yang harus saya hadapi ‘hanya’ macet di beberapa titik saat pulang dan pergi bekerja. Saya tidak harus berdiri berjam-jam berdesakan setiap hari pulang dan pergi di gerbong commuter line tersebut.
.
Beberapa episode duduk berdiri ini membuat saya tersadar, banyak hal dalam keseharian pekerjaan saya yang harus lebih banyak disyukuri. Pun ruang kerja saya minimalis, tapi setidaknya saya punya meja kerja lengkap dengan fasilitas laptop, listrik, telepon, dan juga internet. Belum lagi pemandangan rumput, pohon, dan langit yang setiap hari menjadi pemandangan keseharian kerja saya. Walaupun saya memimpikan ruang kerja dengan pemandangan Puncak Gunung Salak hehhehe
.
Hal yang harus saya syukuri juga tentang pekerjaan saya yang memberi kesempatan saya mempelajari banyak hal, dan di atas itu semua, dalam pekerjaan ini saya punya pilihan untuk duduk dan berdiri kapan saja saya kehendaki. alhamdulillah.

Bogor, 17 April 2018. 16.58

→ No CommentsTags: Uncategorized

Ini Bukan Tentang Seribu Dua Ribu, Tapi ……

July 14th, 2016 · No Comments

yohanamaylinda3

 

Alkisah ada seorang perempuan berjilbab, agak gendut (agak???), ga cantik, biasa ajah (to be honest hehehee), sebut saja namanya “Witi” (ga ada yang namanya Witi kan??), yang seperti biasa menaiki Honda 125D untuk menempuh perjalanan 25 KM pulang pergi dari rumahnya menuju tempat kerjanya di Dramaga.

Seperti biasa, sore itu ia menempuh jalur Jalan Raya Dramaga – Terminal Bubulak – Yasmin – Jalan Baru – Pajajaran.  Seperti biasa pula, sore hari di pertigaan jalan antara dari arah Rumah Makan Mekar Wangi – Terminal Bubulak dan ke arah Cifor ada kemacetan. Motor, mobil, truk dan berbagai jenis kendaraan lainnya berebutan mendahului masuk ke jalur yang ia inginkan, termasuk Witi.

Sore itu ada 2 orang pak ogah yang mengatur pertigaan jalan tersebut. Witi antri memasuki jalur dari arah Rumah Makan Mekar Wangi ke arah Terminal Bubulak. Karena merasa akan belok kanan, Witi pun mengambil jalur sebelah kanan.  Ketika Witi berusaha mengambil jalur kanan, seorang pak ogah dengan keukeuh tidak mau bergeser dan terus bilang motor di sebelah kiri alias masuk keluar area jalan yang ditentukan. Witi tetap berusaha memajukan motornya, eh pak ogahnya keukeuh ga kasih jalan..ya kali ditabrak, kan ga mungkin.. Witi mengalah, dia melipir ke sebelah kiri.

Sesederhana itu tapi Witi telah tersakiti… tsahhhh… lebay hehehee… Tapi serius, ada sisi terdalam di hati Witi yang tersakiti. Apakah karena Witi tidak memberi uang seribu, kemudian pak ogah bisa bebas melarang Witi masuk ke sebelah kanan?? Helloww.. bukankah Witi juga seorang pembayar pajak yang taat, Witi juga berhak untuk menikmati fasilitas jalan itu, no matter Witi memberi uang seribu atau tidak. Lalu, apa hak dan kewenangan pak ogah melarang Witi?

Duh, ini diskrimasi namanya, tidak adil. Karena mobil atau truk memberi ia 1000-2000 rupiah, lalu dia memberi akses lebih leluasa, sedangkan Witi sebagai pengendara motor yang tidak memberikan sepeser rupiah dipaksa masuk jalur diluar jalan. Asli, bukan masalah rupiah, tapi itu diskriminasi bung!!!

Diskriminasi menurut KBBI adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya). Nah, dalam hal ini, Witi telah diberlakukan berbeda hanya karena ia tidak memberikan seribu ke pak ogah itu, padahal ia adalah sessama warga negara yang juga punya hak menggunakan jalan yang dibangun dari dana yang salah satunya bersumber dari pajak yang dibayarkan oleh Witi.  (Yuk… urusan disuruh melipir ke kiri aje jadi panjang ye… )

And u know, diskriminasi seperti itu, yang kesannya remeh temeh, ternyata juga kadang terjadi di tempat lain di sekitar kita. Misalkan, di suatu tempat, saat ini masih berlangsung, Witi harus membayar 1000 untuk parkir di lokasi tersebut, pun jelas tertera stiker instansi dan menyebutkan dia bagian dari instansi tersebut. Tapi Witi tidak pernah melihat mobil yang masuk lokasi tersebut dimintai karcis parkir berbayar.  Please, tell me why???

Jangan bilang cuma bayar seribu, di mall bayar juga lebih mahal dari itu. Ini bukan tentang 1000 atau 2000 atau ribu ribu yang lain, tapi diskriminasinya itu yang tidak berkeadilan. Adil itu tidak berarti sama rata sama rasa, adil itu proporsional,  yang membuat semua pihak merasa nyaman.

Baiklah, Witi mo pulang dulu ya, moga ga ketemu pa ogah itu  lagi :)

 

→ No CommentsTags: Artikel Umum

Senyum Berkeadilan

March 23rd, 2016 · No Comments

Logo-AYO-NGGUYU

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Attirmidzi).

Salah satu hadist terkenal yang pertama kali saya dengar pas jaman pengajian ba’da magrib dulu. Masih segar dalam ingatan saya ketika Kak Kholis, Kak Imam, Kak Ibnu dengan sabarnya membimbing kami mengaji di sela kesibukannya sebagai mahasiswa IPB, termasuk mengajarkan kami hadis ini.

Nah, salah satu yang sangat saya sukai dari hadist yang disebutkan pas pengajian itu adalah hadis ini, bahwa senyum itu sedekah. Pertama kali dengar hadist itu saya seneeeengg banget. Wah senyum saja dinlai sedekah. Ah betapa gampangnya sedekah.. Asiiikk.. Sedekah tapi ga pake biaya, tidak mengurangi saldo rekening, modal pasta gigi dan mouthwash aja hehehehhe. Apalagi saya termasuk sanguinis, wah perkara senyum sampe ketawa ketiwi itu hal yang relatif mudah dilakukan, dimana saja kapan saja. Kucing dan pohon randu di depan IPB BS saja saya sapa… sanguinis apa gila yak hhehehe…

Tapi ya ternyata, seiring berjalannya waktu, alias menua (hehehhehe), ternyata perkara senyum ini bukan urusan yang gampang. Harus berkeadilan. Halah.. yo.. senyum pake adil segala. Iya, senyum itu harus adil,  dengan mindset yang benar, dan niat yang tulus..

*

Senyum – Adil

Adil yang saya maksud adalah betapa urusan menarik bibir 2 cm ke kanan dan ke kiri itu jadi mudaaaahhh bahkan mungkin refleks ketika kita berhadapan dengan orang yang kita anggap lebih ‘tinggi’ kedudukannya dengan kita. Entah itu tinggi dari segi jabatan, pangkat golongan, senioritas, harta, level bisnis, level karir, type rumah, jenis mobil, dsb.. Ah senyum itu langsung terukir sempurna bahkan kita bisa menahan ukiran senyum itu berlama-lama ketika berhadapan dengan mereka yang lebih ‘tinggi’.

Pada kasus lain, kita juga relatif lebih mudah senyum pada orang yang ganteng atau cantik, perlente, pake jas rapih, pake seragam tertentu. Ciizzz.. senyum itu gampang banget, ga pake bersusah payah. Pun kita ga kenal dia dan baru saja ketemu. Betapa ga adilnya, secara saya merasa tidak cantik hehehhehe…
Urusan senyum ini yang jadi perjuangan adalah ketika harus mengukir senyum yang sama manisnya, sama hangatnya kepada orang-orang yang (kita anggap) lebih ‘rendah’ dari kita, entah itu jabatan, pekerjaan, kedudukan, senioritas, harta, level karir, latar belakang keluarga, harta, type rumah, jenis mobil, kecantikan, kegantengan, dsb.

Saya mungkin akan dengan mudah senyum lebar pas papasan sama Nicholas Saputra, pun saya dan dia ga saling kenal. (Siapa juga gw dikenal ama Nicko.. halah so akrab panggil nicko.. daripada nicky hehehehe) Secara ganteng maksimalnya itu bikin senyum itu jadi reflek aja gitu hehehhe.. just kidding… Belum pernah sih ketemu, kalo beneran ketemu bisa jadi gitu heheheh… J

Begitu juga ketika dalam satu acara diperkenalkan oleh MC bahwa Bapak X atau Ibu Y adalah pejabat tertentu dengan posisi yang tinggi, nanti ya jika kita papasan di lift atau di toilet, kayaknya kita jauh lebih mudah senyum lebar ke Bapak X atau Ibu Y itu.

*

Senyum – Niat

Hal lain dalam senyum juga adalah tentang niat. Kita akan berfikir berkali-kali untuk tidak tersenyum manis sekuat tenaga (lebay) untuk orang-orang yang kita nilai lebih ‘tinggi’.

“senyum ah, ntar dibilang sombong ga sopan kalo ga senyum.”

“ Seyum dikitlah biar dinilai hangat.”

“Senyumlah biar kenal, siapa tau nanti ada perlu.. “ dsb dsb dsb

 

Lain halnya ketika bertemu dengan orang-orang yang kita anggap lebih ‘rendah’.

“Ah ga senyum juga gak apa-apa..”

“ Pentingnya apa gw harus senyum segala ke dia”

“dia siapa harus gw senyumin, yang ada dia harus senyum hormat ke gw.. “ dsb dsb dsb.

Betapa kadang kala senyum itu dipenuhi berbagai niatan yang berbeda-beda. Ah senyum itu relatif mudah, tapi menjaga niat untuk senyum itu tidak mudah..

*

Senyum – Mindset

Ternyata senyum tak semudah itu ya. Senyum itu tidak hanya urusan menarik bibir 2 cm ke kanan dan ke kiri, tapi ia terkait erat dengan mindset. Halah… aya urusanna naon seuri jeung si mindset J

Iya, ketika mindset kita terhadap semua orang itu setara, bahwa yang disyaratkan di hadist itu adalah senyum dihadapan saudaramu… entah itu lebih tinggi, lebih rendah, lebih kaya, lebih miskin, pejabat tinggi, pegawai biasa, ketika kita senyum maka ia bernilai sedekah. Tidak kemudian senyum kepada pejabat itu nilainya lebih tinggi sedekahnya, tidak. Sama saja. Masihkah mau memilah-milah kepada siapa kita akan tersenyum, padahal di sisi Allah semua manusia itu sama, setara, yang membedakan hanya nilai ketakwaannya.

Jadi ya, adillah dalam tersenyum.. tata mindset dan hati kita ketika tersenyum.. Senyumlah yang manis dan hangat, entah itu pada atasan, kolega, bawahan, supir angkot, OB, pejabat, juga pada bang Nicholas Saputra..  hehehhe..
***
Disalin dari postingan saya di FB :)

Sumber gambar : islamnkri.com

→ No CommentsTags: Artikel Umum

Salam untuk Biro Hukum, Promosi dan Humas IPB dari Puncak R1NJ4N1 3726 mdpl

October 24th, 2015 · No Comments

 

Salam dari Puncak Rinjani untuk BHPH IPB

Rinjani, keelokan pemandangannya sudah terkenal sejak lama. Tak heran jika banyak sekali turis, baik domestik maupun asing, yang berusaha menggapai puncaknya.

Benar saja, Rinjani dari awal pendakian sampai puncaknya kereeeen pake banget banget banget.. Masya Allah.. Asli, Rinjani recommended banget deh. Wajib dicoba 😀

**

Seperti menggapai puncak Rinjani, aku tak akan mundur karena aku tak berani melanjutkan perjalanan. Selama aku yakin, track ini bener, yang akan membuatku mundur hanyalah alam dan petugas TNGR. Titik. In sya Allah, tanpa dua hal itu aku akan berusaha terus melangkah.

Pun langkahku sangat lambat, beberapa langkah kemudian terhenti. Beberapa langkah lalu terhenti lagi. Pun harus seperti itu terus sampai puncak nanti.

Pun aku harus seringkali terhenti di satu titik cukup lama, untuk sekedar menguatkan hati, mengatur napas, menyusun tenaga-tenaga yang tersisa.

Juga ketika aku harus berkali-kali terjatuh, merosot di track pasir, kena hembusan debu-debu dari mereka yang terlebih dahulu turun, juga menggigil tanpa jaket, merasakan jari-jari tangan dan bibir yang mulai membeku kedinginan..

Aku akan terus melangkah sampai aku pegang plat itu, plat Puncak Rinjani. Karena aku tau ia tetap setia disana, tidak akan bergeser, selama apapun aku menggapainya, ia menungguku disana.

Ya, Rinjani, ia akan tegak berdiri menjadi saksi pernah terpatrinya sebuah keberanian melangkah pada sebait cerita yang tak pernah selesai, karena semua belum dimulai.

-cuplikan posting tentang Rinjani-

Di Puncak Rinjani

**

latepost – photo by Silvia

→ No CommentsTags: Artikel Umum

Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

June 24th, 2015 · No Comments

Sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2015 tentang Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, telah ditetapkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Susunan organisasi dalam Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi terdiri atas:

  1. Sekretariat Jenderal;
  2. Direktorat Jenderal Pembelajarandan Kemahasiswaan;
  3. Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi,dan Pendidikan Tinggi;
  4. Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi;
  5. Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan;
  6. Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi;
  7. Inspektorat Jenderal;
  8. Staf Ahli Bidang Akademik;
  9. Staf Ahli Bidang Infrastuktur;
  10. Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas;
  11. Pusat Data dan Informasi Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi;
  12. Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; dan
  13. Pusat Pendidikan dan Pelatihan.

 

→ No CommentsTags: Peraturan Pemerintah

Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2015 tentang Bentuk dan Mekanisme Pendanaan PTN Badan Hukum

June 11th, 2015 · No Comments

Peraturan yang sangat dinantikan oleh PTN Badan Hukum di Indonesia akhirnya sudah ditetapkan pada tanggal 22 Mei 2015. Ya, peraturan mengenai bentuk dan mekanisme pendanaan perguruan tinggi negeri badan hukum yang baru yang mengakomodasi fleksibilitas dan akuntabilitas pendanaan PTN Badan Hukum.

Dengan kekhasan pengelolaan PTN Badan Hukum, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2013 yang selama menaungi hal tersebut  sudah tidak sesuai dengan pelaksanaan otonom Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum.

Kekhasan pengelolaan pendanaan PTN Badan Hukum diakomodasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2015 tentang Bentuk dan Mekanisme Pendanaan PTN Badan Hukum.  Dalam PP tersebut, dengan jelas disebutkan bahwa bantuan Pendanaan PTN Badan Hukum yang berasal dari APBN dapat dikelola secara otonom dan bukan merupakan penerimaan negara bukan pajak.

→ No CommentsTags: Peraturan Pemerintah